Wayang Beber, Seni Wayang yang Hampir Punah

Seberapa banyak dari Anda yang pernah tahu Wayang Beber? “Banyak pengunjung yang datang mengaku tak pernah dengar nama Wayang Beber,” ungkap Achmad Maulana kepada Serempak.id. Di Bentara Budaya, Wayang Beber dipamerkan sejak tanggal 24-30 November 2016. Wayang Beber yang dipamerkan di Pameran Wiwara Matra Wayang Beber merupakan karya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Total ada 62 karya yang dipamerkan. Tak hanya pameran saja, juga ada workshop sehingga menambah pengetahuan pengunjung tentang wayang beber. Wayang Beber sudah dikenal sejak zaman Mataram Islam. Sejarawan Universitas Gadjah Mada Prof Djoko Soekiman mencatat, seniman wayang beber terus berinovasi sesuai zaman. Pada kisaran masa 1889 di Dalem Kabupaten Wonosari, wayang beber digelar tanpa diiringi gamelan. Pada tahun 1901 wayang beber sudah menggunakan gamelan.

img_20161127_142140_hdr1

Menurut arkeolog Belanda Dr WF Stuterheim, wayang yang melukiskan suatu episode cerita rakyat ini adalah karya seni lukis Jawa yang sudah punah. Sisa-sisanya dapat diikuti pada relief candi-candi di Jawa Timur. “Seniman hari ini mencoba melakukan pembacaan ulang wayang beber sebagai produk pengetahuan yang telah melewati perjalanan panjang,” kata Frans Sartono, General Manager Bentara Budaya seperti di kutip di buku Wayang Beber.
 img_20161127_142258_hdr1
Wayang beber identik dengan budaya Jawa yang kental dengan tradisi lisan atau bertutur. Penceritaan visual dalam wayang beber sangatlah khas, serupa seni pahat pada relief candi di masa kebudayaan Indonesia-Hindu yang bisa dijumpai di Candi Borobudur, Prambanan, ataupun Penataran. Karakteristik yang khas itu menjadikan wayang beber sebagai salah satu seni tradisi yang terus diupayakan untuk dilestarikan dan diperkenalkan secara nasional. Pameran ini juga merupakan upaya pelestarian wayang terkait dengan wayang kulit sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO.
 img_20161127_142318_hdr1
Menurut Hendra Himawan, staf Pengajar Jurusan Seni Murni FSRD ISI Surakarta, pameran ini tak semata hadir sebagai bentuk romantisme produk kesenian, melainkan  dilandasi semangat untuk mengkaji kembali pengetahuan-pengetahuan yang muncul dalam segenap aspek dalam wayang beber. Wayang beber menurutnya merupakan pertunjukan tutur yang performatif, sarat makna dan nilai. Wayang beber juga merupakan potensi estetik sebagai sumber ide bagi penciptaan karya yang baru. (rab)