Waspada Cyber Crime, Let Us Secure!

“Anak-anak dan perempuan adalah kelompok yang rentan menjadi pelaku dan korban cyber crime

Cyber crime, awalnya saya pikir merupakan tindak pidana yang berkaitan dengan jaringan komputer semata. Ternyata, cakupan tindak pidana ini lebih luas dari itu. Wawasan ini saya peroleh dari Serempak Roadshow 2017, di Jogjakarta, 30 Mei 2017.

Menurut Deputi Kesetaraan Gender Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa ancaman cyber crime terhadap kaum perempuan dan anak umumnya berupa pornografi, human trafficking, tawaran instan melalui media sosial dan prostitusi online.

Oleh karena itu, beliau merasa perlu melakukan edukasi, salah satunya melalui Serempak Roadshow 2017 yang mengambil tema, “Waspada Cyber Crime: Pencegahan dan Penanggulangannya”. Dengan adanya edukasi semacam ini, masyarakat diharapkan menyadari bahwa internet itu memiliki dua sisi. Selain sisi manfaat, ada sisi negatif yang harus diantisipasi.

Ibu Ratna menyebutkan dua hal, yaitu filter diri dan ketahanan keluarga sebagai hal yang bisa menjauhkan masyarakat dari dampak negatif internet. Dalam roadshow tersebut mendatangkan pembicara Bapak Surahyo Sumarsono, Pengajar dan Konsultan IT dan Ibu Norma Sari, Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan.

Banyak hal penting terungkap di acara tersebut. Saya mencoba merangkumnya.

Mengenal Cybercrime

Cybercrime is nothing but where the computer used as an object or subject of crime. The computer can also be used asthe tool for conducing or planning a crime. The symbol of the computer itself can be used intimidate or deceive (Eoghan Casey)”

Indonesia dalam hal ini Kepolisian RI menggunakan istilah cyber crime berdasarkan Kongres PBB tentang Prevention of Crime and The Treatment of Offlenderes tahun 1999 di Havana Kuba dan tahun 2000 di Wina Austria. Ada dua pendekatan yang dipakai:

  1. Cyber crime sebagai computer crime atau kejahatan yang menyerang computer, baik menyerang data maupun sistem keamanannya. Hal ini dikenal sebagai cyber crime dalam arti sempit. Contohnya, hacker yang membobol sistem keamanan komputer sebuah perusahaan .
  2. Cyber crime dalam arti luas adalah komputer yang digunakan sebagai sarana untuk melakukan kejahatan. Contohnya: prostitusi online, human trafficking, sms penipuan dll.

Tindakan yang tergolong cyber crime ada di list berikut ini:

“ATM Frauds, Botnets, Cyber Bullying & Stalking, Digital Reputation, Email Frauds, Financial Crimes, Hacking, Java Vulnerabilities, Music/Software’s Piracy, Key Logger, Lottery Scams, Nigerian Frauds, Online Drug Trafficking, Phising, Denial Of Service,Rootkit, Social Enginering, Trojan, User Tricking, Viruses, Web Jacking/ Worm, Xss, Y2K Bug, Zombie”

Dari berbagai macam tindakan cyber crime tadi, yang paling banyak dicuri adalah data mengenai:

“Credit Card Number, Debit Card Number, Social Security Number, Other, Online Bank Log in, Checking account number, medical records or health insurance, school or university record, ATM PIN, credit card PIN, Driver License Number”

Dari uraian yang disebut di atas tadi, saya jadi berpikir betapa ancaman cybercrime itu bisa menimpa siapa saja. Bukan hanya badan negara, dan perusahaan saja, pribadi seperti saya dan teman-teman juga berisiko yang sama.

Apa pasal? Karena kita terkoneksi dengan internet. Sehari-hari kita biasa mengakses internet, ditambah lagi data kependudukan, perpajakan, perbankan, kesehatan dan-lain-lain memberlakukan sistim online. See, hidup kita memang sudah internet things!

Untuk itulah perlu adanya rambu-rambu berinternet dengan aman:

  • Ketika menggunakan internet yang kita hadapi itu bukan satu, atau dua orang saja, melainkan banyak orang. Berhati-hatilah, karena apa pun yang kita unggah dan bagikan, baik tulisan maupun video itu beresiko dan berdampak luas.
  • Cyber crime tak hanya menyerang perangkat komputer, sekarang justru menyerang psikologi orang atau kebiasaan seseorang.
  • Waspadai profiling. Pelaku cyber crime mendata perilaku para internet user. Kebiasaannya, kesukaannya dll. Data ini bisa akan digunakan untuk melakukan tindak pidana.
  • Cyber crime goes mobile. Menyerang para pengguna smartphone misalnya sms penipuan.
  • Waspada dengan otentikasi, yang menyebabkan internet user dikenakan verifikasi otomatis. Resikonya, jika ada orang lain yang menggunakan akun kita maka itu dianggap sebagai tindakan pemilik akun. Rahasiakan password akun apa pun agar tak disalahgunakan oleh orang lain.
  • Rutin mengganti password email dan media sosial, selalu log out ketika berinternet dengan komputer di tempat umum ataupun milik orang lain.
  • Pencegahan langkah tepat melindungi cyber crime. Bisa dilakukan dengan edukasi, training, pengamanan komputer, mobile devices, aset digital maupun jaringan.
  • Ingat titik lemah itu ada pada manusianya, bukan peralatan.
  • Audit terhadap sistem informasi secara rutin.
  • Jika terkena cyber crime, lakukan IT Forensik secara detil untuk pembelajaran agar tak terulang kembali.

Pandangan Dari Aspek Hukum

Kalimat pembuka tulisan ini menyebutkan bahwa perempuan dan anak itu, selain rentan sebagai korban, juga bisa jadi pelaku. Berikut ini data dari Komnas Perlindungan Anak mengenai pronografi dan prostitusi online:

“Tahun 2016 ada 414 kasus pornografi dan prostitusi online yang melibatkan anak-anak dan perempuan”

Sementara itu, pelaku cyber crime berjenis kelamin perempuan juga ada. Umumnya, karena mereka tidak berhati-hati dalam menulis status di media sosial.

Bagaimana Hukum Mengatasinya?

Menurut Ibu Noorma Sari, saat ini ada kecenderungan untuk mengunggah segala yang dialami di media sosial. Sayangnya, tidak semua penggungah berada dalam kesadaran penuh. Inilah yang menjadi awal orang tersebut bermasalah dengan hukum.

Sekarang ini banyak muncul tindak kejahatan yang baru sejak adanya internet. Membuat status yang menyinggung maupun menghina lewat internet bisa dipidana. Hal ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa “Crimes is product of society” yang artinya bahwa tindak pidana itu dihasilkan oleh masyarakat sendiri.

Hukum mengatasinya dengan melaksanakan hukum pidana dengan memperhatikan aspek perlindungan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar menghukum pelaku tapi juga bisa mencegah hal tersebut terulang kembali.

Menurut sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman menyebutkan, ada 3 unsur pembentuk sistem hukum:

  • Struktur menyangkut aparat hokum.
  • Substansi itu peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Budaya yang berlaku di masyarakat.

Ketiga hal tersebut menjadi penentu efektivitas penegakan hukum di suatu wilayah.

Menyangkut masalah peraturan perundang-undangan, Indonesia memang belum meratifikasi Convention On Cybercrime. Tapi, perbuatan yang direkomendasikan dalam konvensi itu telah muat dalam UU ITE No.19 Tahun 2016 seperti menyangkut konten illegal, akses ilegal, pornografi, carding dll.

Mengenal Serempak

Serempak merupakan kependekkan dari Seputar Perempuan dan Anak. Sebuah program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Serempak ini dijalankan oleh komunitas.

Menurut Ibu Martha Simanjuntak, Ketua Pokja Serempak, menyebutkan bahwa tujuan dari Serempak adalah untuk mendukung program Kementerian KPPA dalam mengakhiri “Three Ends”, yaitu

  • Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak.
  • Mengakhiri human trafficking.
  • Mengakhiri keterbatasan akses ekonomi bagi perempuan.

Kegiatan Serempak diantaranya memberikan edukasi, training ke berbagai daerah. Program ini sudah dimulai sejak tahun 2016. Diantaranya diselenggarakan di Jakarta, Makasar, Surabaya dengan tema dan bentuk yang berbeda. Untuk tahun 2017 dilaksanakan di Jogjakarta.

Selain itu, Serempak juga berbagi kabar dan inspirasi melalui portal interaktif serempakid. Semua masyarakat bisa terlibat aktif di program ini.

Bisa dilakukan dengan cara aktif mengirim tulisan, berbagi berita dan inspirasi seputar perempuan dan anak.

Ada pesan menarik bagi para internet user yang disampaikan oleh kedua narasumber:

“Cara paling aman terhindar dari cyber crime adalah unconnected” –Surahyo Sumarsono

Jleb, banget! Bagi saya, kok rasanya sulit ya, nggak connect internet. Hobi dan pekerjaan saya, dilakukan dengan menggunakan internet. Lalu apa yang bisa dilakukan agar bisa berinternet secara aman? Selain rambu-rambu yang sudah disebutkan di atas, ingatlah hal ini:

“Jaga jari-jarimu karena kamu bisa jadi korban maupun pelaku cybercrime” –Noorma Sari

(Ety Handayaningsih)