Urgensi Penanganan Sampah di Indonesia

Jumlah penduduk di Indonesia lambat laun bertambah. Sementara wilayah persebaran penduduk tidak merata–kepadatan penduduk di ibukota dan serta kota-kota besar di Jawa jauh lebih besar daripada wilayah lainnya. Pertumbuhan jumlah penduduk berbanding lurus dengan jumlah sampah yang mereka hasilkan. Pada 2016 saja, setiap harinya Indonesia menghasilkan 65 juta ton sampah–cukup untuk menimbun seluruh wilayah Jakarta. Tak heran jika Indonesia menduduki peringkat kedua negara penghasil sampah terbesar setelah China.

Manusia menghasilkan beraneka jenis sampah, mulai dari hasil metabolisme tubuh, sampah organik dan anorganik dari kehidupan sehari-hari, sampai limbah berbahaya dari berbagai industri. Dari semua jenis sampah, sampah plastik lah yang sampai saat ini masih menjadi momok.

Menurut penelitian, satu kantong plastik rata-rata hanya dipakai selama 5 menit, bahkan kurang. Umumnya hanya untuk mengantongi barang belanjaan atau makanan. Faktanya, untuk kembali terurai secara alami, sampah plastik membutuhkan waktu 20 tahun–ada juga jenis plastik yang membutuhkan 25-30 tahun.

Kesadaran masyarakat terhadap urgensi penanganan sampah masih begitu minim. Di sana-sini masih sering kita temui orang yang membuang sampah seenak dengkulnya–melempar sampah dari atas kendaraan ke jalan, seperti sudah tidak punya tanggung jawab lagi dengan sampah itu.┬áJika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia “juara” dalam kategori negara penghasil sampah terbesar di dunia.

Kalau itu terjadi, berbagai sudut jalanan kota akan menjadi lautan sampah. Bau yang ditimbulkan akan menyesakkan hidup kita setiap hari. Karenanya, saluran pernafasan kita terganggu karena udara yang kotor dan bau. Potensi timbulnya penyakit menular pasti meningkat. Sampah yang tidak ditangani dengan baik juga akan memenuhi saluran-saluran air. Ketika hujan turun, aliran air terhambat dan banjir pun tidak bisa terelakkan.

Selain mengganggu keberlangsungan hidup manusia, sampah juga sangat berbahaya bagi ekosistem. Hewan bisa mati jika tumbuh-tumbuhan tercampur limbah. Masih hangat di ingatan kabar tentang hewan kebun binatang yang keracunan akibat pengunjung membuang sampah di kandang hewan. Tumbuhan akan terganggu ketika tanah terkontaminasi limbah. Bahkan, lapisan ozon juga tidak luput dari dampak metana–hasil dari pembusukan sampah–yang kemampuannya merusak atmosfer 4 kali lebih besar daripada karbondioksida. Wajar jika suhu bumi meningkat dan anomali iklim semakin menjadi-jadi.

Ibarat penyakit, masalah sampah di Indonesia sudah dalam kondisi darurat stadium puncak. Kesadaran akan pengelolaan sampah sesegera mungkin harus ditumbuhkan. Tidak hanya mengkritik orang lain, melainkan menginstropeksi diri sendiri. Jangan menunggu untuk mengurangi pemakaian sampah yang sulit untuk terurai seperti plastik dan sterofoam. Anak-anak juga sejak dini harus diajari untuk peduli pada lingkungan dan tata kelola sampah.

Pengelolaan dengan slogan 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) juga mari dijalankan. Dimulai dari reduce yang berarti mengurangi segala pemakaian barang yang hanya sekali pakai kemudian di buang. Sebisa mungkin menggunakan barang yang bisa digunakan secara berkelanjutan. Misalnya saja, memilih menggunakan tas belanja daripada kantong plastik yang sekali pakai.

Selanjutnya adalah reuse yang berarti memakai kembali. Jika memang terpaksa menggunakan kantong plastik, usahakan untuk tidak langsung membuangnya, terlebih jika masih dalam kondisi baik setelah digunakan pertama kali. Ada baiknya kantong plastik disimpan untuk keperluan selanjutnya.

Terakhir adalah recycle yang berarti mendaur ulang barang yang sudah tidak digunakan. Misalnya, memanfaatkan sampah sebagai bahan baku membuat kerajinan. Kita perlu memilih sampah yang masih bisa digunakan dan diolah lagi, sehingga sampah mendatangkan nilai tambah.

Setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk mengelola sampah. Persoalan ini selayaknya tidak dibebankan kepada satu pihak atau instansi saja, mentang-mentang kita sudah membayar mereka untuk mengurus sampah. Mari bahu-membahu untuk menjadikan bumi ini menjadi sebuah hunian yang nyaman dan aman dari kontaminasi sampah, sehingga pembangunan berkelanjutan bisa dinikmati anak dan cucu kita kelak.(as)