Tips Mengatasi Baby Blues

Pernah mengalami Baby Blues? Usai melahirkan biasanya emosi terasa naik turun, bahkan terkadang mendadak ingin marah atau menangis. Jika Anda mengalami itu, bisa jadi Anda terkena baby blues.

Menurut Fonda Kuswandi, S.Psi, Praktisi Hypno-birthing, Hypnobreastfeeding, Hypnoparenting dari Pro V Clinic Holistic Health Care Jakarta, setelah melahirkan, hormon kehamilan menurun drastis. Kemudian diganti dengan produksi hormon menyusui. Nah, perubahan hormon ini bisa menimbulkan efek kurang nyaman. “Penyebab lain adalah kondisi psikologis ibu baru misalnya rasa kecewa,“ kata Fonda seperti dikutip dari Tabloid Nova. Ada tiga gejala khas dari Baby Blues Syndrome, yakni pertama, merasa bosan, sedih dan lelah. Kelelahan membuat ibu kurang istirahat sehingga konsentrasi ibu pun mengalami penurunan. Kedua, merasa mudah marah, tersinggung dan lebih sensitif. Ketiga, ada perasaan terasing, bersalah dan malu.

Bayangan semula menjadi menyenangkan kemudian menjadi sesuatu yang merepotkan. Akibatnya, ibu pun merasa terasing. Ada beberapa penanganan yang tepat yang bisa dilakukan. Pertama, baby blues sangat membutuhkan dukungan orang terdekat seperti suami, orangtua dan mertua. “Selama dua minggu pasca melahirkan, suami sebaiknya mendampingi istri,” kata Fonda. Seorang ibu sebaiknya mencari bantuan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.

Dengan demikian, ibu fokus untuk merawat sang jabang bayi. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah melakukan meditasi dan relaksasi secara rutin. Diharapkan ibu menjadi lebih tentram dan damai meski dihadapkan pada persoalan mengasuh buah hati. Jangan lupa mengatur pola makan sehat dan bergizi. Karena bagaimanapun merawat anak jangan sampai membuat sang ibu melewatkan jadwal makan. Sesuaikan porsinya dan jangan lupa mengupayakan mengkonsumsi makanan bergizi. Apabila belum mendapat solusi yang memuaskan, pilihan alternatifnya adalah konsultasi pada ahlinya. Misalnya, psikolog yang dapat membantu mencarikan jalan keluar. Berkonsultasilah dengan akar membuat persoalan yang dihadapi bukanlah menjadi sesuatu yang ‘abnormal’ melainkan wajar.

Jika ingin mencegah baby blues, salah satunya dengan persiapan jauh-jauh hari, termasuk di dalamnya persiapan mental, fisik bahkan finansial. Perbanyak pengetahuan atau informasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, pengasuhan bayi dan sebagainnya. Dengan begitu, permasalahan kehamilan ataupun kendala setelah melahirkan dapat teratasi dengan baik.(rab)