Tetrodotoxin, Apakah Dapat Menyebabkan Kematian?

Istilah Tetrodotoxin mencuat di berbagai media beberapa waktu lalu. Istilah ini populer ketika kasus pembunuhan terhadap adik tiri Kim Jong Un, yaitu Kim Jong Nam, yang membuat heboh seluruh dunia. Salah satu unsur zat kimia yang dicurigai penyebabnya adalah adanya Tetrodotoxin, lalu apa sebetulnya Tetrodotoxin?

Tetrodotoksin adalah racun yang melumpuhkan saraf.  Racun ini akan memblokade aliran ion natrium (Na+) ke dalam sel saraf, sehingga saraf tidak bisa menghantarkan aliran listrik sarafnya dan menajdi lumpuh saraf. Akibat saraf lumpuh, maka baik otot-otot, mau pun saraf perasa dan saraf otonom (misalnya saraf yang mengatur kencing dan buang air besar) akan lumpuh juga. Jika mengenai otot pernafasan akan menyebabkan tidak mampu bernafas. Jika mengenai otot jantung, akan membuat henti jantung. Jika mengenai kulit, akan mebuat mati rasa atau kesemutan. Jika mengenai saraf buang air kecil, dan besar akan menjadi inkontinensia (tidak mampu mengontrol BAB/BAK). Dan lain-lain.

Berbagai literatur menyebutkan bahwa racun ikan fugu yang diekstraksi dan dijadikan racun, hanya membutuhkan sejumlah 1-2 mg/kg BB untuk bisa membunuh manusia. Gejala biasanya berkembang dalam waktu sekitar 30 menit dari menelan racun, namun akan jauh lebih cepat jika disuntikkan atau dihirup . Dengan dosis letal/mematikan,  gejala biasanya muncul  dalam belasan menit sejak menelan racun, yang artinya hanya hitungan beberapa menit saja jika dihirup. Rasa kesemutan atau nyeri di daerah yang disemprotkan atau di saluran napas dan hsdung atau mulut yang  diikuti rasa kesemutan atau nyeri pada seluruh tubuh, banyak memproduksi ludah, berkeringat, sakit kepala, rasa lemah lesu, tangan dan kaki bergoyang (tremor), sampai kelumpuhan  kelumpuhan, sianosis, kejang dan kematian pada akhirnya. Kematian biasanya cepat terjadi karena ketidak mampuan untuk bernafas karena otot-otot pernafasan lumpuh.  Tragisnya, meskipun benar-benar lumpuh, korban peracunan tetrodotoxin mungkin tetap sadar sampai sesaat sebelum kematiannya, yang umumnya terjadi dalam waktu sekitar 20 menit 8 jam.

Hingga saat ini tidak ada obat penawar yang telah ditemukan dan disetujui untuk digunakan pada  manusia. Beberapa penelitian di tingkat laboratorium, memang melihat peluang antibody monoclonal spesifik yang mungkin digunakan sebagai penawar, namun belum memberikan hasil yang menggembirakan. Dengan demikian, jika menyebabkan gagal nafas, maka obatnya adalah masuk ICU dan dipasang alat bantu nafas permanen sampai efek racun hilang dengan sendirinya. Ini pun jika tidak merusak sel saraf yang ada di organ tubuh yang lain.(rab)