“Telanjangi Budaya Itu agar Seksi”

Beberapa tahun ini budaya Nusantara sering diperbincangkan, bukan tentang kekerabatan, falsafah, atau riwayatnya, tapi geram karena lagu Rasa Sayange, tari Reog Ponorogo, dan lainnya yang diklaim oleh negara tetangga.

Ada yang menarik dari Seminar Nasional Rancangan Undang-Undang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Tradional (RUU-PT-EBT) yang digelar beberapa waktu lalu di Gedung Smesco, Jakarta, para narasumber malah mengatakan bahwa sebenarnya masalahnya bukan soal diakui ataupun diklaim.

Tambah menarik  saja ketika Agus Sardjono, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia mengucapkan kalimat yang “menohok” kita sebagai bangsa Indonesia. Budaya Nusantara bukan negara lain maupun pihak asing yang mengambilnya, tapi kita sendiri yang menghilangkan budaya itu.

Beliau mengajak 150 peserta melihat kegiatan-kegiatan dan penelitian budaya justru banyak dibiayai oleh negara lain maupun NGO asing. Tanaman bunga Anggrek Merah di Kalimantan saja  disorot di Film Anancoda. Selain film Amerika yang populer itu, datang juga para peneliti untuk meneliti tanaman jenis ini dan mereka menemukan khasiatnya bagi kesehatan. Lucunya lagi, lintah digunakan dukun di daerah untuk mengobati penyakit stroke karena mengandung enzim, pengetahuan ini diteliti oleh Swedia dan sekarang kita harus membelinya dengan harga mahal dari mereka.

Selanjutnya Agus Sardjono memberikan contoh: jika orang luar ada yang memproduksi, mendesain, dan mempromosikan kaos bergambar Reog Ponorogo, ini sah-sah saja. Mereka justru mengenalkan Reog Ponorogo ke luar negeri. Jika kita melarangnya, berarti kita mengerangkeng budaya sendiri. Kita juga perlu ingat tidak semua budaya kita asli karena ada yang campuran dari budaya luar.

Maka, yang perlu kita jaga dari budaya Nusantara adalah pengembangan, pemanfaatan, promosi, pelestarian, dan perlindungan budaya – kelimanya merupakan 5 pilar gagasan membuat  RUU- PT-EBT.

Jadi, menyangkut budaya bukan perihal mengakui atau mengklaim tapi lebih memberikan dukungan, mendata, melindungi aset, pemanfaatan yang benar dari pengguna atau pengunaan yang tidak benar. Jika kita tidak mendukung budaya, maka matilah budaya terebut. Budaya itu bagian dari kehidupan bukan diciptakan individu. Menyebut Budaya pun bukan Budaya Indonesia, tapi Budaya Nusantara. Sebab nama Indonesia itu untuk menyebut Negara Indonesia maupun Republik Indonesia.  Budaya asli Jawa, Sumatera, Papua, dan lainnya, inilah yang disebut Budaya Nusantara.

Lalu bagaimana memproteksi terhadap ekspresi budaya? Beliau menjawab, ”Telanjangi budaya itu agar seksi.”

Rukka Sombolinggi, Deputi Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Indonesia, mengutarakan kegelisahnnya pada anak muda zaman sekarang yang tidak punya minat terhadap budaya nenek moyangnya sendiri. Padahal tidak apa-apa mengabungkan budaya leluhur dengan zaman sekarang, misalnya saja membuat lagu Rasa Sayange dengan musik elektronik. Musik selera anak muda pada era ini sangat bisa dikombinasikan dengan lagu tradisional agar budaya dapat terus dilestarikan. Sayangnya baru sedikit yang melakukan hal ini.

Rukka Sombolinggi juga menekankan soal pemanfaatan budaya. Beliau memberikan contoh Negara Thailand yang menjadikan budayanya demi tontonan turis yang mestinya tidak mengabaikan esensi (misal: kesakralan, spritual, dan sebagainya) dan entitas dari budaya mereka sendiri. Yang dimaksud ucapannya ialah gradasi kemanusiaan. Sebetulnya tidak masalah hal tersebut untuk menguntungkan aspek ekonomi hanya saja lihat juga faktor manusia dan kandungan budayanya. Rukka juga menyetujui ucapan Agus Sardjono, untuk mencari keaslian budaya harus ditelusuri, dicari tahu ke masa lalu, kemudian didata.

Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berpendapat bahwa kekayaan intelektual perlu dimantapkan dalam pembuatan regulasinya.

Mengenai pendataan budaya dari kalangan masyarakat, Sobat Budaya dan Bandung Fe Institute telah mengumpulkan 34.000 data budaya Nusantara yang bisa dinikmati melalui website dan aplikasi mobile. Data-data budaya yang ditelusuri pun melalui  riset ilmiah berdasarkan budaya tradisi. Beberapa orang yang peduli budaya Nusantara juga melakukan hal yang sama, contohnya Shinta Ridwan yang meneliti Naskah Kuno Sunda dan Kwan Hie Liong yang tidak pernah bosan memosting Batik pesisir Nusantara di akun sosial medianya.

RUU-PT-EBT telah diusulkan ke DPD dan juga sudah diserahkan ke DPR. Semoga mereka bijak membuat regulasi. Dan semoga kita dapat meningkatkan kesadaran pada budaya leluhur kita dengan menjaga, mendukung, memanfaatkan, dan mempromosikannya secara baik dan benar.(sn)