Tari Jai, Cyber Crime dan Titik Lemah Manusia

Senyum di wajah kedelapan mahasiswa yang berasal dari STMIK Jendral Achmad Yani Jogjakarta. Seolah tidak pernah lepas, menggambarkan suasana hati riang.

Semakin menghangatkan aula STMIK Achmad Yani yang berada di lantai empat sehingga memukau peserta roadshow dengan tema Cyber Crime di Jogja. Yang berlangsung awal bulan Mei.

Apalagi saat mereka membawakan tarian Jai yang berasal dari Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Seringkali mereka menebar senyum ke peserta Roadshow Serempak 2017. Yang didominasi kaum perempuan.

Dengan kompak, mereka melakukan gerakan yang berirama mengikuti alunan musik khas Nusa Tenggara Timur. Membuat badan ini tidak tahan untuk tidak ikut bergoyang.

Tarian Jai yang berasal dari kabupaten Ngada, Flores biasanya ditarikan untuk menyambut tamu kehormatan dan saat berlangsungnya upacara adat. Tarian ini sudah cukup dikenal di beberapa negara karena Tentara Nasional Indonesia yang tergabung dalam Kontingan Garuda sebagai Pasukan Perdamaian  PBB di Lebanon menarikannya di hadapan tentara lain dari manca negara.

Gerakan yang sederhana dan tidak rumit membuat tarian ini amat menarik. Sehingga membuat peserta roadshow yang umumnya mahasiswa dan blogger tidak habis-habisnya mengabadikannya dalam kamera atau perangkat gadget mereka.

Para penari tergabung dalam Sanggar Pamanusa Tim Nusantara di kampusnya. Walau tarian berasal dari Flores, ternyata mereka berasal dari berbagai daerah. Ada dari Makasar, Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa tenggata Timur bahkan dari negara tetangga Timor Leste.

Foto:www.serempak.id

Acara roadshow Serempak 2017 yang diawali dengan tarian yang menarik karena kekompakan dan kebersamaan. Seolah ingin menunjukkan perlunya kebersamaan dalam menghadapi ancaman atau bahaya cyber crime yang tidak dapat dipandang remeh dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di negeri ini.

Menurut Surahyo Sumarsono, seorang konsultan dan pengajar IT di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jogja. Para pengguna telephone pintar atau gadget harus menyadari bahwa saat aktif melakukan koneksi internet. Bukan  hanya alat saja yang dihadapi, tetapi juga manusia. Terdapat jutaan orang di balik atau di belakang alat seperti smartphone, baik dengan membaca maupun sekedar melihat.

Dalam aktivitas terkait cyber crime, Surahyo mencermati bahwa kejahatan terkait di dunia maya lebih pada usaha seseorang yang melakukan tindak penyerangan lewat kebiasaan orang. Cenderung kepada perilaku seseorang yang menjadi sasaran memanfaatkan suasana psikologis seseorang.

Menurut Surahyo, titik terlemah dalam kasus cyber crime ada di dalam diri manusianya bukan teknologi. Kasus Mama minta pulsa merupakan social engineering attack. Manusianya yang paling mudah diserang.

“Üntuk masalah teknologi, tool-nya cepat berubah dan hal tersebut dapat dipelajari. Untuk mengatasinya cukup mudah. Tetapi biasanya pelaku cyber crime menyerang hal non teknis seperti psikologi seseorang. Oleh karena itu, dalam mengatasi cyber crime perlu ahli psikologi,’’ jelas Surahyo.

Norma Sari, aktivis perempuan dan anak yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. Menilai tidak sedikit perempuan atau ibu-ibu melakukan up date status hanya ingin menumpahkan kegalauan bukan bermaksud menyerang. Namun yang terjadi oleh pihak lain dianggap memiliki tendensi menyerang atau mempermalukan.

Norma mencontohkan seorang ibu rumahtangga berkeluh di media sosial tentang harga bawang merah yang dibeli di warung tetangga mahal. Dan ternyata kebetulan tetangga tersebut memiliki akun media sosial yang sama. Akibatnya, terjadi hubungan yang tidak baik antar tetangga karena status ibu pembeli tadi dianggap menyerang penjual bawang merah.

Foto: www.jalantikus.com

Pada kesempatan tersebut, Norma menyampaikan bagaimana mahasiswa mudah sekali menyampaikan kegalauannya di media sosial. Seperti saat mahasiswa mendapat nilai C . Sehingga sebagai dosen merasa dirinya seperti orang paling pelit sedunia. Yang disambut dengan gelak tawa dari peserta Roadshow Serempak 2017.

Program 3Ends

Serempak merupakan organisasi di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Serempak merupakan singkatan dari Seputar Perempuan dan Anak yang pada tahun ini memiliki program 3Ends, yaitu:

Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak

Mengakhiri trafficking atau penjualan perempuan dan anak

Mengakhiri keterbatasan akses ekonomi perempuan

Seperti biasa acara talkshow atau roadshow yang melibatkan pegiat dunia maya, seperti blogger selalu ada kegiatan live tweet atau lomba upload di instagram.

Memang menarik, tetapi apakah yang disampaikan pembicara acara tersebut tersimpan dalam pikiran dan menjadi bahan renungan, jika peserta sibuk update status? Yups, dengan menulis di media sosial bisa mewartakan kepada khalayak sekaligus dapat tersimpan di media sosial. (Eko Indarwanto)