Sumpah Pemuda dan Nasionalisme di Era Global

Di tengah segala kegaduhan politik yang sedang terjadi akhir-akhir ini, tampaknya merenungkan kembali makna Sumpah Pemuda di era global bisa membuat kita berpikir lebih bijak. Bagaimana maknanya saat ini? 

Tentu kita semua sudah paham bahwa tanggal 28 Oktober identik dengan hari untuk pemuda, karena merupakan peringatan Hari Sumpah pemuda. Pada tanggal yang sama, 28 Oktober tahun 1928 para pemuda melakukan ikrar untuk mengakui hanya bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

Sebuah aksi kepeloporan yang luar biasa, menyatukan berbagai perbedaan  di tengah suasana yang belum mapan, dengan meneguhkan nasionalisme melalui Sumpah Pemuda. Sikap politik pemuda waktu itu adalah adanya rasa senasib, seperjuangan, kesamaan cita-cita untuk merdeka, menumbuhkan rasa cinta dan kesetiaan yang amat sangat pada negeri ini.

Semangat Sumpah Pemuda adalah sebuah tonggak untuk meneguhkan rasa nasionalisme pada masa itu, sebagai bentuk perlawanan pada penjajah yang memang berusaha memecah belah bangsa yang besar ini.

Pada perjalanan berikutnya, pada setiap dekade selalu  menunjukkan jika pemuda lah yang menjad ipelopor penggerak perjuangan. Lihat saja dalam sejarah, fakta-fakta menunjukkan Angkatan 45 berjuang mempertaruhkan harta dan nyawa merebut kemerdekaan.

Lalu, Angkatan 66 yang dikenal juga sebagai angkatan muda yang menentang dan menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia. Selain peristiwa itu, cukup banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran dalam sejarah.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam setiap masanya, pemuda merupakan pelopor penggerak dalam melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan, ketimpangan sosial, pada hal-hal yang negatif. Dengan idealisme yang dimiliki, pemuda merupakan sumberdaya bagi negara untuk melanjutkan keberlangsungan kehidupan bangsa ini.

Pemuda dan Nasionalisme

Belajar dari sejarah, mencatat bahwa pergerakan dan perjuangan yang dilakukan oleh pemuda masa lalu adalah berlandaskan kecintaan pada negeri,  bentuk nasionalisme.

Di masa sebelum  kemerdekaan, di tengah suasana bangsa masih carut marut, friksi dan pertempuran kecil masih terjadi di beberapa daerah, para pemuda waktu itu mampu mencanangkan ikrar Sumpah Pemuda.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menakar nasionalisme pemuda di masa kini? Nasionalisme semacam apa yang bisa digelorakan untuk pemuda di masa kini? Apakah sama ataukah berbeda aplikasinya? Mungkin masih timbul sederet pertanyaan lagi.

Jika sejarah mencatat bahwa pada setiap zaman, generasi muda mampu mengambil peran positif sebagai perwujudan rasa cinta tanah air, maka peran seperti apa yang bisa diambil oleh pemuda di masa kini?.

Pemuda di Era Digital    

Pertanyaan diatas hanya untuk menegaskan bahwa era yang sekarang ini sungguh sangat berbeda dengan masa lalu, dengan sendirinya bentuk kecintaan kepada tanah airpun berbeda. Di era digital ini hampir bisa dipastikan jika kita tak lepas dari dunia digital, terutama sekali pemudanya. Sebagai orang yang berusia muda tentu akan bersemangat mengikuti perkembangan jaman.

Era digital, berhubungan erat dengan globalisasi yaitu menyatunya berbagai negara dalam satu dunia global yang mengakibatkan semua informasi di seluruh belahan dunia sama atau satu adanya. Bisa diartikan bahwa antara satu wilayah dan wilayah lain mengalami kenaikan ketergantungan dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu unsur yang mengglobal dan menimbulkan penetrasi adalah bidang budaya, yang berarti budaya dari negara lain akan sangat mudah diakes oleh negara lain pula. Contoh yang paling mudah, bagaimana dewasa ini sedang terjadi datangnya gelombang budaya dari Korea ke negara kita Indonesia.

Indikasinya apa? Banyak sekali di antaranya bagaimana hiburan dari negeri ginseng itu memiliki pangsa penggemar yang makin lama makin banayk di Indonesia.

Ini hanya salah satu contoh, masih ada banyak sekali fakta yang menunjukkan bagaimana budaya dari luar diikuti oleh generasi muda dengan tanpa kritik sama sekali, karena sebagian generasi muda memiliki asumsi bahwa segala hal yang datang dari luar negeri adalah baik atau lebih baik.

Perhatikan saja, bagaimana sebagian generasi muda kita mengikuti cara berpakaian, cara berbicara, bahkan sampai pada meniru nyaris semua budaya dari negeri lain.

Lalu apakah asumsi itu benar? Apakah asumsi bahwa semua yang berasal dari luar negeri itu baik diterapkan di negeri ini? Tentu saja tidak, karena negeri kita memiliki falsafah tersendiri, memiliki budaya sendiri, memiliki karakter tersendiri.

 

teks_sumpah_pemuda_asli

 

Nasionalisme dengan melestarikan budaya

Generasi muda bisa menunjukkan nasionalismenya dengan tetap menjaga dan mempertahankan niali-nilai yang sejak dahulu ada di negeri ini. Jika perkembangan teknologi cenderung menumbuhkembangkan sifat dan perilaku individualistis, maka tugas generasi mudalah untuk menumbuhsuburkan nilai-nilai komunal bangsa ini yaitu satu sama lain saling memiliki kepedulian yang positif.

Contoh sederhana yang bisa kita lihat sehari-hari adalah ada gejala hampir punahnya bahasa ibu di beberapa daerah di Indonesia. Kenapa bisa terjadi? Karena penggunaan bahasa  lokal sudah jarang digunakan. Nah disinilah peren pemuda bagaimana memebrikan contoh pada masyarakat, dengan menggunakan bahasa lokal dsalam aktifitas sehari-hari.

Beberapa nilai budaya yang dimiliki negeri ini, seperti sikap yang humanis, menghargai perbedaan, menghargai moral dan etika, religius, taat aturan sosial, aturan agama dan aturan hukum, sudah saatnya diteguhkan kembali.

Meneguhkan budaya bangsa yang akhir-akhir ini hampir punah, merupakan bentuk nasionalisme, bentuk cinta tanah air.

Karena pemuda merupakan generasi penerus, yang akan memegang tongkat kepemimpinan di masa depan, maka pemuda sudah selayaknya mempelopori untuk meneguhkan kembali budaya negeri ini.

Jika nasionalisme pada masa lalu adalah mengorbankan tenaga, darah dan nyawa, maka tugas generasi muda adalah menunjukkan nasionalisme dengan menjaga, melestarikan dan meneguhkan kembali budaya negeri ini.