Stop pernikahan dini pada anak!

“Stop pernikahan dini pada anak!” Itulah kesimpulan yang dikatakan oleh Priscilla Mariana, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam rapat pimpinan hari ini. Loh, kok namanya Priscilla? Bukankah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di jabat oleh Ibu Yohana Yembise?

Ternyata, Priscilla Mariana adalah pemenang dari lomba vlog (video blogger) “Sehari Menjadi Menteri” yang diselenggarakan oleh Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Plan Indonesia. Priscilla beserta kesepuluh anak – anak dari seluruh nusantara yang mengikuti lomba vlog “Sehari Menjadi Menteri” mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan orientasi.

 

Jpeg

Priscilla Mariana, Menteri PP dan PA Sehari

 

Mereka  akan memimpin rapat pimpinan di ruang rapat menteri, dengan membicarakan isu perkawinan pada usia anak – anak. Kemudian hasil dari rapat akan diserahkan ke menteri yang sesungguhnya sebagai rekomendasi dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya untuk SDG ke-5 yang berfokus pada pencapaian kesetaraan gender.

Uniknya, rapat yang berlangsung benar – benar seperti rapat pimpinan sungguhan namun khas dengan gaya remaja. Masing – masing jajaran pejabat tinggi, berperan aktif dalam rapat dengan memberikan ide – ide dan solusi dalam mencegah terjadinya pernikahan dini.

Menurut Dra. Lenny Nurhayat Roaslin, M.Sc, Deputi Tumbuh Kembang Anak, lomba ini diadakan untuk melatih kepemimpinan dan mengajak anak – anak untuk peduli kepada lingkungan. Ibu Lenny juga berharap anak – anak  berpartisipasi menjadi 2 P yaitu Pelopor dan Pelapor. Anak – anak yang menjadi pelopor diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang dapat mengajak anak – anak disekitarnya untuk mencegah terjadinya pernikahan dini dan dapat segera melaporkan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

 

img_5570

 

Because I Am A Girl (BIAAG) Movement

Sekitar 200 posisi kunci di seluruh dunia akan diisi oleh anak perempuan di lebih dari 50 negara, pada perayaan Hari Anak Perempuan Internasional. Anak perempuan akan menjabat sebagai presiden, perdana menteri, menteri,  kepala daerah, kepala kepolisian, pemimpin redaksi, dan juga pemimpin beberapa korporasi global. Aksi ‘Girls Takeover’ ini menjadi simbol dari gerakan global pemberdayaan anak perempuan bertajuk Because I Am A Girl’ (BIAAG Movement) yang diinisiasi Plan International.

“Kami menyadari bahwa belum ada satu pun negara yang betul-betul mempraktikkan kesetaraan gender secara total. Pengambilalihan posisi penting di sektor politik, ekonomi dan sosial oleh anak perempuan pada Hari Anak Perempuan Internasional itu menjadi ‘pertunjukkan’ luar biasa dari anak-anak perempuan di seluruh dunia. Mereka memiliki kekuatan dan keterampilan untuk tampil sebagai pemimpin,” kata Anne-Birgitte Albrectsen, CEO of Plan International.

Anne menjelaskan, diskriminasi menyebabkan perempuan dan anak perempuan tertinggal dan tidak terlihat di posisi-posisi kunci. Hanya 10 dari 152 kepala negara yang dijabat perempuan. Selain itu, dari 500 korporasi teratas dunia,  jabatan CEO yang diisi oleh perempuan kurang dari 4 persen. Karena itu, menurut Anne, perayaan Hari Anak Perempuan Internasional harus dijadikan momentum untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada anak perempuan untuk belajar, memimpin, memutuskan, dan tumbuh dengan potensi maksimalnya.

Di Indonesia, BIAAG Movement pada Hari Anak Perempuan Internasional 11 Oktober 2016 diisi dengan kegiatan ‘Sehari Jadi Menteri’, di mana dua anak perempuan terpilih akan mengisi jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, serta Menteri Ketenagakerjaan.

Sebelumnya, sebanyak 22 anak terpilih dari 11 provinsi berkumpul di Jakarta, untuk mengikuti karantina ‘Sehari Jadi Menteri’. Mereka mengikuti pelatihan dan orientasi, sebelum nantinya dua anak ditunjuk oleh Menteri PPPA Yohana Yembise dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri untuk mengisi posisi mereka pada tanggal 11 Oktober  2016. Sementara 20 anak lainnya akan menjadi jajaran pejabat tinggi di kedua kementerian tersebut.

Sumber : press release Plan Indonesia

One Comment