Saya Bukan Ibu yang Sempurna

“Lahirnya normal atau operasi?”

“Operasi, Bu.”

“Dokter zaman sekarang memang suka pengen gampangnya, ya. Dikit-dikit operasi. Udah jarang yang melahirkan normal. Pengennya praktis dan cepat.”

Dulu, saya sangat kesal ketika ada yang bertanya seperti kemudian malah menghakimi. Maunya apa, sih?

Ingin rasanya saya menjelaskan panjang lebar alasan kenapa harus operasi caesar. Tentang usaha saya untuk tetap bertahan hingga bukaan 10 dan sudah berusaha maksimal mengejan supaya bisa normal. Tetapi dengan pertimbangan medis saat di ruang kelahiran dan mempertimbangkan segala resikonya, suami pun memutuskan operasi. Bila ditanya sakitnya, saya merasakan 2x sakit. Sakit mulas karena proses normal dan sakit setelah operasi. Kemudian ada berkomentar seperti itu? Bikin saya kesal tetapi akhirnya hanya bisa menangis di hadapan suami.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai cuek dengan pendapat-pendapat seperti itu. Sampai kemudian belum lama ini saya membaca status seorang teman yang katanya ibu yang melahirkan dengan cara operasi bukanlah ibu yang sempurna. Tidak seperti beberapa belas tahun lalu yang langsung merasa kesal, kali ini saya hanya tersenyum. Bukan ibu yang sepurna. Memang seperti apa ibu yang sempurna?

Ketika Anak Sakit

Saya masih sangat ingat ketika anak pertama saya untuk pertama kalinya dirawat di rumah sakit di usianya yang baru beberapa hari karena bilirubinnya yang sedikit lebih tinggi dari angka normal, saya terus-menerus menangis. Menangis hingga jatuh sakit tetapi harus tetap datang ke rumah sakit karena saya sudah bertekad untuk tetap bisa memberikan ASI Eksklusif bagi anak.

Saya ingat ketika pertama kalinya dia diimunisasi, saya pun hanya menangis. Imunisasi memang bukan pengobatan. Tetapi saya gak tega melihat kaki kecilnya harus ditusuk jarum.

Setiap kali anak-anak saya sakit, saya sering menangis. Tetapi bukan berarti saya tinggal diam. Saya tetap berusaha merawat anak-anak saya sebaik mugkin. Saya pernah berhari-hari menemani anak menginap di rumah sakit untuk dirawat karena thypus.

Saya juga yang biasanya lebih dahulu tahu anak sedang sakit walaupun baru terlihat gejala ringan. Semuanya bisa terlihat dari bahasa tubuh mereka apakah sedang sehat atau sakit. Saya juga yang paling cerewet untuk urusan menjaga kesehatan anak-anak

Saat Anak Mulai Sekolah

Antara sedih dan senang ketika anak mulai sekolah. Saya sedih karena sebagian waktu mereka akan dihabiskan di sekolah, bukan lagi bersama saya. Tetapi saya juga senang karena sekolah juga termasuk tahapan yang akan dilalui anak.

Sejak mereka belum sekolah, saya sudah sering berdiskusi dengan suami tentang pendidikan anak. Sekolah seperti apa yang akan mereka masuki bahkan hingga mereka kuliah nanti.

Memasak untuk Anak-Anak

Sebelum menikah, saya termasuk yang tidak bisa membedakan mana merica dan ketumbar. Ketika menikah, saya bertekad untuk belajar memasak. Niatan saya ingin menyenangkan suami dan anak-anak. Sekarang memasak jadi salah satu aktivitas menyenangkan bagi saya. Apalagi kalau anak-anak makan dengan lahap dan suka dengan masakan saya. Rasanya sangat bahagia.

Itu adalah segelintir aktivitas yang saya lakukan untuk anak-anak. Sepertinya semua ibu di manapun akan melakukan hal yang sama. Tidak ada seorang pun ibu yang tidak sedih ketika anaknya sakit. Saya selalu datang di hari pertama anak-anak saya sekolah setiap tahunnya. Dan semua ibu, termasuk ayah, yang juga datang semuanya berwajah senang. Saya mengenal seorang ibu yang sama sekali tidak bisa masak, tetapi dia selalu memastikan anaknya mendapatkan asupan gizi sebaik mungkin. Tidak pernah sekalipun saya berpikir apakah ibu-ibu ini melahirkan normal atau operasi. Semua terlihat sayang dengan anak-anaknya.

Ibu yang baik bukan dilihat dari proses melahirkan normal atau caesar. Apapun prosesnya, setiap ibu akan melakukan hal yang terbaik bagi anak-anaknya. Memang tidak ada ibu yang sempurna, seperti halnya semua manusia. Saya pun pernah melakukan kesalahan, disengaja ataupun tidak, kepada anak-anak. Tetapi, selama anak-anak masih terlihat menyayangi saya, maka saya merasa menjadi ibu yang sempurna.(ma)