Ruang Terbuka Hijau untuk Tingkatkan Kualitas Hidup

Infrastruktur dan lingkungan maupun IPTEK merupakan satu sektor yang sangat penting manakala kita berbicara terkait peningkatan sumber daya manusia khususnya perempuan dan anak. Bagaimana mungkin pendidikan, kesehatan, ekonomi dan seluruh kehidupan kita itu tidak ditopang oleh infrastruktur dan lingkungan maupun IPTEK.

Dra. Sri Danti, MA selaku Plt. Deputi Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak menyampaikan arahannya sekaligus membuka kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Penataan, Pengelolaan, dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau yang Responsif Gender dan Ramah Anak yang diselenggarakan di kota Serang, Banten pada tanggal 26 Oktober 2017.

Beliau menyampaikan, “Selama ini kita hanya fokus tentang pendidikan, kesehatan, pengambilan keputusan, politik dan hukum. Tapi kita lupa untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, khususnya perempuan dan anak”.  Menurut beliau tidak cukup kita berbicara hanya dalam konteks pendidikan, kesehatan, politik dan sebagainya. Kita juga perlu mengembangkan dan menghadirkan suatu infrastruktur yang tujuannya untuk meningkatkan kesehatan jiwa maupun mental.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai program unggulan yang dinamakan 3Ends yaitu,  Akhiri kekerasan pada perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi kaum perempuan. Dengan Ruang Terbuka Hijau yang Responsif Gender dan Ramah Anak, bukan tidak mungkin maksud dan tujuan dari program 3Ends tersebut dapat terlaksana.

Apakah infrastruktur dan lingkungan, dalam hal ini Ruang Terbuka Hijau memiliki suatu manfaat dan bisa tidak diakses secara adil oleh semua kelompok masyarakat?.  Kalau kita lihat sedikit ada 4 kriteria utama dalam ruang terbuka hijau, antara lain:

  1. Fungsi ekologis: Ruang Terbuka Hijau untuk konservasi tanah, air dan keragaman hayati; mitigasi bencana, dan hutan kota
  2. Aspek sosial budaya: Ruang Terbuka Hijau merupakan ruang untuk penduduk bersosialisasi dan ruang untuk mengekspresikan seni budaya masyarakat
  3. Aspek ekonomi: Ruang Terbuka Hijau merupakan sumber produk yang dapat dijual
  4. Aspek estetika: Bentuk Ruang Terbuka Hijau dapat mengikuti bentuk-bentuk geografis sesuai geotopografinya agar penduduk terlayani untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, indah dan lestari.

Kalau kita punya ruang terbuka hijau yang  bisa digunakan untuk bertemunya seluruh masyarakat, bukan tidak mungkin berbagai macam masalah misalnya stress masalah pekerjaan, keuangan, polusi dan sebagainya bisa dikurangi.  Jadi, ruang terbuka hijau  bukan hanya saja untuk sarana komunikasi tapi juga sebagai suatu oase untuk bisa meningkatkan kesehatan jiwa terutama bagi penduduk yang tinggal di kota. Intinya,  Ruang Terbuka Hijau harus memberi manfaat untuk semua masyarakat baik laki-laki, perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas maupun lansia.(ly)