Roadshow Serempak 2017 Bandung

Literasi digital menurut University of Illinois adalah Kemampuan untuk dapat mengerjakan segala hal di lingkungan digital berbasis komputer dan ikut aktif dalam proses pengembangan teknologi terkini, dan juga Kemampuan untuk menggunakan beragam teknologi digital agar dapat membuat, menempatkan, dan mengevaluasi informasi. Bicara mengenai literasi digital, biasanya selalu disandingkan dengan generasi millenial, yang mana kita ketahui generasi millenial tidak bisa meninggalkan teknologi dari kehidupan sehari-harinya.

Pada kegiatan Roadshow Serempak 2017 di Bandung ini, tema yang diangkat adalah Kreatif Bersama Serempak, Literasi Digital Generasi Millenial yang mana literasi digital sudah sangat dekat bagi para generasi  muda, sebagaimana semakin berkembangnnya teknologi di Indonesia.

Seminar dan Gelar bicara kali ini di moderatori oleh Ibu Martha Simanjuntak, SE. MM selaku Ketua Pokja Serempak dan Founder dari IWITA (Indonesian Women IT Awareness).  Telah hadir pula narasumber-narasumber yang kompeten diantaranya Ibu Yulis Widyo Marfiah selaku Kepala Divisi Pelaksana, Monitoring dan Evaluasi Ekosistem BP3TI Kementerian Kominfo, Ibu Indari Mastuti sebagai Penggiat Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Ibu Andalusia Neneng Permatasari  selaku Dosen Fikom UNISBA.

Gelar bisa dimulai dari pemaparan dari ibu Yulis Widyo Marfiah. Ibu Yulis memaparkan apa saja program kerja yang dilakukan Direktorat Ekosistem BP3TI, diantaranya penyediaan akses internet yaitu menyediakan layanan akses internet pita lebar (broadband internet access) di daerah-daerah yang belum terjangkau, menciptakan pemerataan TIK untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan menyediakan platform inklusi keuangan digital untuk mendukung program keuangan inklusi nasional. Selain itu BP3TI juga membuat program Desa Broadband Terpadu yang mana tujuan dari program tersebut adalah tersedianya Sistem Informasi Desa yang terintegrasi untuk menjawab kebutuhan dan ketersediaan data/informasi tentang desa yang akurat, meningkatkan partisipasi publik serta transparansi dalam tata kelola pemerintahan, dalam hal ini adalah tata kelola pemerintahan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pemerataan pembangunan layanan TIK.

Setelah pemaparan dari ibu Yulis selesai, kemudian dilanjutkan dengan ibu Indari mastuti. Ibu Indari membagikan pengalamannya dalam memaksimalkan penggunaan sosial media. Menurut beliau, digitalisasi sangat memudahkan perempuan karena pekerjaan dapat dilakukan secara online dan semua serba cepat, alangkah ruginya apabila kita tidak mengikuti perkembangan zaman. Pada era yang serba digital ini semua bisa dilakukan melalui online, bahkan menurutnya, sampai urusan mencari jodoh bisa dilakukan melaui sosial media dan website. Para mahasiswa misalnya, bisa memanfaatkan google untuk mengetahui bisnis-bisnis apa yang bisa menghasilkan uang. Ibu Indari sendiri menggunakan media sosial sebagai bisnis, silaturahmi, campaign, berbagi dan pengembangan diri. Sampai sekarang, facebooklah yang membuka cakrawala. Perempuan indonesia bisa belajar, bersilaturahmi atau apapun hanya menggunakan facebook. Tetapi, tidak semua orang menggunakan media sosial dengan bijak, sekarang ini sering pula ditemukan kasus bullying di media sosial dan penyebaran berita bohong atau yang biasa disebut hoax. Ibu Indari memberikan sedikit renungan kepada kita, silakan anda cek social media anda, sebutkan 5 hal BAIK dan 5 hal BURUK yang anda lakukan di social media dalam 3 bulan terakhir ini. Jika anda lebih sulit menyebutkan hal baik dibandingkan hal buruk, sebaiknya anda mulai mempertimbangkan untuk memperbaiki cara anda menggunakan social media. Sebelum mengakhiri sesinya, ibu Indari membagikan tips dalam menggunakan internet sehat yaitu:

  1. Jika marah dan anda tidak bisa mengendalikan emosi, maka tutuplah social media anda, dibandingkan memosting status-status penuh emosi.
  2. Jika bahagia postinglah lebih banyak tulisan sebagai tabungan kebaikan (biasanya sedang bahagia membuat kita lebih lancar menulis).
  3. Fokus pada membagi ilmu yang anda kuasai dibandingkan anda memposting tulisan yang sedang jadi hot topik atau isue yang sebetulnya tidak Anda kuasai.
  4. Pilah dan pilih teman di sosial media. Dalam artian tidak asal menerima pertemanan dan berteman.
  5. Berhenti menulis sesuatu dengan subyektif apalagi ketika sedang marah, kuasai ilmunya dulu. Misal sedang ramai kasus A, lalu kita ikut posting status menyudutkan padahal kronologisnya tidak paham.
  6. Ketika ingin menulis tentang seseorang dari sisi negatif, tanyakah ke diri kita sendiri:
  • Apakah saya sudah lebih baik darinya?
  • Apakah ibadah saya sudah lebih sempurna darinya?
  • Apakah perbuatan ini akan jadi sia-sia?
  • Apakah saya tidak memiliki aib seperti dia?
  • Apakah Allah ridho dengan yang saya lakukan?

Setelah ibu Indari selesai, dilanjutkan dengan pemaparan dari ibu Andalusi Neneng. Beliau membahas tentang literasi digital berbasis passion. Apa itu literasi? Literasi artinya adalah melek. Melek teknologi dalam artian bukan hanya bisa menggunakan tapi bisa mengambil informasi dan mengerjakan segala hal dengan berbasis digital dan ikut aktif dalam proses pengembangan teknologi. Alangkah baiknya jika kita bisa membuat, menjadi produsen bukan hanya menjadi konsumen. Sudah bisakah kita membuat aplikasi,ebook atau web sendiri ? Ini adalah hal-hal yang bisa membantu kita memahami digital literasi. Untuk bisa melek digital dan teknologi dibutuhkan juga pemahaman sosial budaya. Kalau kita ingin membuat sesuatu, pahami dulu konteks sosialnya. Misalnya, saya senang dengan dunia anak, saya senang dongeng, saya senang buku. Saya pahami apa yang diperlukan anak, maka saya membuat sebuah web gratis untuk anak-anak. Kalau kita tidak punya kepekaan sosial, maka kita tidak akan bisa membuat sesuatu. Selain itu, dibutuhkan juga keahlian. Keahlian kita dalam bidang apa? Misalnya saya seorang ahli kesehatan dan ingin membuat aplikasi tentang kesehatan. Maka bisa melakukan kolaborasi, berkolaborasi denagn ahli IT, animator dan lain sebagainya. Contohnya pada website “Speak Up & Stay Safe(r)” , website ini dibuat untuk pengaduan-pengaduan pada pelecehan yang dialami perempuan. Orang yang membuat ini pasti punya kepekaan sosial dan juga passion disana.

Ibu Andalusia pun selesai  memaparkan materinya, yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para peserta pun antusias untuk memberikan pertanyaan kepada para narasumber.  Selanjutnya saat-saat yang ditunggu akhirnya tiba, yaitu kehadiran dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Yohana Yembisa atau yang akrab dipanggil Mama Yo. Ibu menteri pun memasuki ruangan dan menyapa para peserta yang hadir. Para peserta pun sangat antusias dengan kedatangan ibu menteri. Untuk menambah kemeriahan acara,  ditampilkan pula tarian tradisional khas jawa barat yaitu tari merak.

Setelah menyaksikan penampilan dari tari merak, kata sambutan disampaikan oleh Ibu Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat dan Bapak Dr. Zulkarnaen, M.H sebagai Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat.

Selanjutnya tibalah Ibu Menteri Yohana memberikan keynote speech.  Ibu Yohana menyampaikan, perjalanan waktu di indonesia sudah mulai berubah. Apabila dibandingkan literasi digital sekarang dengan tempo dulu, zaman sekarang  sudahlah sangat berkembang, maka generasi mudalah yang saat ini bisa menikmati teknologi. Sisi positif dari digital ini tentunya ada dan sangat banyak, tapi  tidak semuanya menggunakan secara positif. Beliau menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi dosen S1 dan S2. Pada saat beliau memeriksa skripsi dan tesis mahasiswa, mereka menyertakan suatu informasi dari internet tapi tidak disertakan sumbernya. Yang memang dikhawatirkan adalah masalah copy-paste. Pekerjaan orang lain kita pakai seolah itu pekerjaan kita tanpa ada sumber, dan yang ditakutkan pula dari era digital ini adalah orang sudah tidak lagi memakai buku, kebanyakan semuanya ambil dari internet dan copy pendapat orang lain. Kita harus sadari bahwa perbuatan tersebut tidak baik, bahkan dinegara maju sudah ada hukuman bagi yang melakukkan plagiat. ICT memang perlu, tapi ibu menteri mengingatkan bahwa membaca buku itu penting dan jangan meng-copy semua dari internet. Kita juga harus punya teori, rajinlah membaca buku di perpustakaan, pakailah jurnal-jurnal ilmiah. Buku-buku yang menuliskan teori-teori perlu juga dibaca, itu lebih penting daripada meng-copy dari internet dari penulis  yang tidak jelas.

Selain itu, internet dan media sosial  harus dipakai dari sisi positif. Hoax dan sebagainya bisa membuat kita jatuh. Itu dibuat untuk mengadu domba dan menjatuhkan kita antara satu dengan yang lain. Teknologi bisa merubah watak, cara berpikir, perilaku apabila kita  tidak bisa mengontrolnya. Kita harus ingat bahwa indonesia adalah negara yang punya adat istiadat dan budaya yang cukup tinggi yang harus kita jaga. Janganlah tertelan dengan teknologi. Teknologi bisa dipakai untuk kepentingan, salah satunya yaitu menuju planet 50-50, laki-laki dan perempuan berjalan bersama kedepan untuk membawa generasi kita kedepannya bebas plagiat, bebas dari copy-paste dan mereka bisa punya teori yang lebih kritis lagi melihat situasi dan problema 40-50 tahun kedepan.

Sebelum acara diakhiri, selanjutnya untuk menambah memeriahkan acara dan saat-saat yang tidak kalah ditunggu adalah sesi kuis dan pembagian hadiah yang dipandu oleh ibu Martha Simanjuntak. Semua peserta antusias dan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar website serempak.id dan memperebutkan banyak hadiah. Setelah selesai, acara pun diakhiri dengan sesi foto dan ramah tamah.(ly)