Menyusui Saat Hamil dan Tandem Nursing

Resah itu datang di saat anak kedua kami lahir. Selama sembilan bulan sebelumnya, saya tetap menyusui anak pertama saat hamil. Saya masih belum tega untuk menyapih anak pertama, meskipun usianya sudah 26 bulan. Saya pun memutuskan untuk melakukan tandem nursing. Dan suami menyetujui.

Pengalaman itu bermula ketika suami menyatakan keinginannya untuk memiliki anak kedua di saat anak pertama baru berusia 1 tahun. Saya pun memiliki keinginan yang sama, tetapi kurang sepakat soal waktu–suami menginginkan punya anak kedua secepatnya, sedangkan saya berharap bisa hamil lagi setelah anak pertama berusia 4 atau 5 tahun.

Biar ada temannya, begitu alasan suami. Dia menginginkan anak kedua secepatnya supaya anak pertama kami tidak terlalu lama sendiri. Kalau usia berdekatan, diharapkan hubungan kakak beradik akan semakin dekat karena usianya sepantaran.

Sedangkan saya memiliki pandangan berbeda. Saya ingin anak pertama kami bisa mandiri dulu. Saya masih ingin mengasuh anak pertama tanpa waktunya tersita untuk adiknya. Dan yang paling utama adalah masa menyusui. Saya belum tega menyapih. Niatan saya, paling sedikit 2 tahun bisa menyusui anak.

Tidak ada perdebatan hebat di antara kami. Meskipun sama-sama bersikeras dengan pendapat masing-masing, kami menyerahkan semuanya kepada Allah. Kapan pun kami dikaruniai anak kembali akan diterima dengan suka cita.

Keinginan suami yang akhirnya terkabul. Di saat anak kami berusia 17 bulan, saya pun hamil kembali. Bahagia, pasti. Tapi saya juga resah karena belum rela bila harus menyapih. Lega rasanya ketika konsultasi ke dokter kandungan, saya tetap dibolehkan menyusui selama kandungan tetap sehat. Saya hanya diminta untuk mewaspadai kontraksi selama menyusui. Bila terlalu sering terjadi sebaiknya kegiatan menyusui dihentikan.

Kontraksi rahim saat menyusui sebetulnya hal yang wajar. Pada saat menyusui, tubuh mengeluarkan hormon oksitosin yang akan membuat rahim berkontraksi. Bila kontraksi terjadi terlalu sering pada saat hamil, apalagi kalau sampai ada pendarahan, nyeri di pinggang, dan dampak lainnya, sebaiknya memberi ASI dihentikan karena dikhawatirkan bisa mengakibatkan keguguran. Saya bersyukur karena selama kehamilan selalu sehat. Proses menyusui pun tetap lancer sehingga tidak perlu menyapih.

Saya memutuskan untuk melakukan tandem nursing ketika anak kedua lahir. Tandem nursing atau menyusui tandem adalah kegiatan menyusui bayi dan balita dalam satu waktu. Walaupun sama-sama proses menyusui, bagi saya proses tandem nursing tetap memiliki tantang yang berbeda dengan ketika menyusui 1 anak. Ada beberapa tips berdasarkan pengalaman saya supaya tandem nursing sukses.

Dukungan dari orang terdekat

Saya pernah  mendengar atau membaca kalau salah satu kegagalan ibu untuk menyusui adalah kurang atau tidak adanya dukungan dari orang terdekat. Saya bersyukur memiliki orang-orang terdekat yang mendukung pemberian ASI untuk bayi. Tetapi berbeda ketika saya memutuskan untuk tandem nursing. Mulai banyak yang menyarankan saya untuk segera menyapih anak pertama. Syukurlah suami sangat mengerti dan mendukung saya. Sehingga sebesar apapun kesedihan saya, bisa segera hilang karena dukungannya.

Utamakan Kebutuhan Adik

Meskipun saya masih belum tega untuk menyapih, saya tetap harus menyadari kalau yang lebih butuh ASI adalah si adik bayi, terutama karena si adik masih masa ASI eksklusif. Setiap kali tandem nursing, saya selalu menyamankan posisi adik dulu. Setelah itu kakaknya yang menyesuaikan posisi menyusui. Bila saat itu tidak memungkinkan untuk tandem, maka saya akan meminta kakak untuk mengalah sejenak.

Asupan Gizi dan Istirahat yang Cukup

Menyusui 1 anak saja, ibu selalu disarankan untuk selalu mengkonsumsi makanan yang cukup asupan gizinya serta cukup istirahat. Apalagi kalau menyusui dua anak sekaligus. Ketika tandem nursing, tubuh ibu akan lebih cepat lelah dan lebih cepat merasa lapar. Untuk menjaga stamina dan kesehatan, ibu harus pandai-pandai mengatur konsumsi makanan dan juga waktu istirahat.

Mitos Bayi akan Kekurangan Gizi Bila Tandem Nursing

Salah satu alasan kenapa banyak yang melarang saya untuk tandem nursing adalah bayi akan kekurangan gizi. Katanya, ASI-nya akan habis oleh kakaknya yang jelas minumnya lebih banyak. Padahal, itu semua hanya mitos. Justru semakin ASI diminum, produksinya akan semakin melimpah. Saya pun merasakannya seperti itu. ASI yang saya produksi semakin banyak karena tandem nursing.

Nah, jadi tak usah takut memberi ASI Eksklusif ketika si sulung belum disapih, ya. Asalkan ibu tetap menjaga kesehatan dengan cukup beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergisi, tandem nursing bisa secara aman untuk ibu maupun kedua buah hati .(ma)