Mengenalkan Traveling pada Anak, Ini Caranya

Mengenalkan Traveling pada Anak

Mengenalkan Traveling pada Anak

Adakah di antara Anda yang merasa sulit menyalurkan hobi sejak menjadi Ibu? Dulu waktu masih sendiri, hobi saya traveling. Sesekali jalan-jalan ke luar kota, saya lebih sering saya berkeliling di kota sendiri. Wisata mengunjungi tempat bersejarah dan fotografi adalah minat saya. Sejak menjadi ibu, hobi saya berubah: traveling sama anak.

Terus apa bedanya, Bu?

Ya jelas beda. Pasti beda—pokoknya beda. Memang sejak kuliah hingga kini sudah bekerja, berkeluarga, dan memiliki satu anak, hobi berjalan kaki menyusuri gedung-gedung tua nan kuno masih saya lakukan. Bedanya, kalau dulu saya jalan-jalan agar bisa menikmati keindahan arsitektur gedung-gedung tua, sekarang tujuannya lebih pada, seperti yang sudah saya utarakan: jalan-jalan, bersama anak tentu saja.

Intinya, kalau dulu me time, sekarang we time.

Sebagai orang tua, saya ingin menularkan hobi ini pada anak. Seperti pepatah sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui—sekalian menjalani hobi, tugas menemani anak tetap dijalani. Hal ini saya lakukan agar saya dapat menjalani hobi saya tanpa meninggalkan tanggung jawab saya sebagai ibu. Bukan itu saja. Menularkan hobi ini pada anak melatih saya dalam merencanakan rute berjalan kaki dalam setiap itinerary jalan-jalan kami.

Mengenalkan Traveling pada Anak

Mengenalkan Traveling pada Anak

Lalu bagaimana caranya menularkan hobi jalan-jalan pada seorang anak 4 tahun? Ini cara saya.

  1. Kenalkan Anak pada Kegiatan yang Kita Jalani

Saya sering mengajak anak dalam kegiatan jalan-jalan saya. Dengan menghabiskan waktu bersama menjalani kegiatan tersebut, anak memiliki lebih banyak waktu untuk belajar mengenal dan memahami karakter orang lain secara lebih dekat, dimulai dari ibunya.

  1. Biasakan Berjalan Kaki

Hitung-hitung sambil berolahraga, saya membiasakan anak berjalan kaki. Terkadang pagi hari kami berjalan kaki bersama selama 30 menit. Dari kegiatan ini, saya mendapatkan gambaran yang lebih konkrit tentang perkembangan kekuatan fisik anak. Saya dapat mengukur sejauh mana anak saya dapat berjalan kaki. Di lain pihak, saya juga belajar menahan diri dan melakukan hal-hal yang menenangkan jika ia mulai merengek kelelah. Kalau itu terjadi, saya memilih mengajaknya duduk dan menyantap perbekalan atau bermain daripada menggendongnya.

  1. Latih kemandirian

Sedini mungkin saya melatih anak saya agar mandiri pada hal-hal yang biasa dilakukan sehari-hari, seperti makan, melipat pakaian, mengenakan sepatu dan pakaian, dan merapikan mainannya. Sikap yang mandiri yang dibiasakan sejak dini akan berguna untuk membentuk kepribadian anak. Dan tentu saja, berjalan-jalan sambil ngobrol bercanda ceria itu lebih menyenangkan semua orang daripada harus mendengarkan rengekan.

  1. Tidak mandi air hangat kecuali sakit atau saat cuaca dingin

Sejak detik pertama menjadi Ibu, saya sudah berkeinginan membiasakan anak saya mandi tanpa air hangat. Namun, naluri keibuan saya untuk melindungi anak jauh lebih kuat. Tekad ini baru saya lakukan ketika anak saya berumur 9 bulan.

Air hangat adalah kemewahan rumahan yang sering dianggap biasa. Namun sering kali, di luar sana kita harus berkorban lebih banyak demi mendapatkan kemewahan-kemewahan kecil yang biasa kita jumpai di rumah. Kesadaran itu membawa saya pada kebiasaan tidak mandi air hangat kecuali kondisinya darurat. Lagipula, seperti yang banyak diberitakan di berbagai artikel kesehatan populer, mandi air dingin bermanfaat untuk menguatkan tulang dan meningkatkan daya tahan tubuh.

  1. Sisipkan kegiatan bermain saat traveling

Anak kecil mudah bosan. Moodnya mudah berubah. Mengabaikan kebosanannya hanya akan berujung pada sikap tantrum. Untuk mengatasi rasa bodan anak saat traveling, saya suka mengajaknya bermain. Permainan itu bisa sesederhana bernyanyi bersama, membawa buku gambar dan mencorat-coret bersama, membolehkannya menonton video Upin Ipin di Youtube, sataupun bermain jari tangan ala permainan tradisional. Biasanya, sebelum berangkat jalan-jalan, saya mempersiapkan perlengkapan bermain anak dalam ransel traveling kami.

  1. Latih kesederhanaan dan sopan santun

Bepergian bersama anak tidak harus menggunakan mobil pribadi atau menggunakan segala fasilitas yang menunjang kenyamanan. Kami cukup sering menumpang angkot. Sesekali makan di warteg bolehlah, tidak harus di restoran franchise yang berpendingin udara.

Kepada orang-orang kami temui di jalan, saya membiasakan anak untuk menghargai orang lain dengan cara sesederhana mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘permisi’.

Memupuk hobi pada anak kecil memang tidak gampang. Kita bisa memulai dengan mengenalkannya pada kegiatan-kegiatan positif yang biasa kita lakukan. Kelak, si anak dapat memutuskan hobi dan kegiatan macam apa yang ia suka.

Namun anak kecil tetaplah anak kecil. Kita sebagai orang tua dituntut untuk memahami mereka dan lebih banyak berkompromi. Sering kali, saya merasa segala cara sudah saya lakukan, namun anak masih saja merengek. Sering pula saya ingin lekas sampai tujuan, tapi anak saya senang mengamati dan bertanya banyak hal sehingga laju perjalanan kami bak kura-kura: pelan dan santai. Pun, perhatian ekstra dan aktivitas yang kita lakukan untuk membuat jalan-jalan tetap mengasyikkan bagi si kecil seringkali membuat energi terkuras.

Pada akhirnya, walaupun tidak mudah, menjadi ibu sembari menjalani hobi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Kondisinya tentu saja berbeda dengan saat kita masih lajang. Namun, entah mengapa saya merasa terlatih untuk keluar dari zona nyaman saat menjalani hobi jalan-jalan saya bersama anak. Tiap momennya adalah tentang belajar dan berkompromi–mengetahui batas kemampuan diri sendiri dan orang lain–hal-hal yang saya harapkan dapat dipetik juga oleh si kecil kami.(nw)