Mengapa ASI Eksklusif Penting

ASI (Air Susu Ibu) sangat penting dalam siklus kehidupan pertama bayi, sejak baru lahir hingga 6 bulan kemudian. ASI merupakan hak bayi, dan merupakan kewajiban ibu memberikannya. Namun, tentu tak pantas diperdebatkan jika kemudian, karena satu dan lain hal, seorang ibu tak bisa maksimal menyusui bayinya.

Pemberian ASI saja, tanpa makanan ataupun minuman pendamping kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan disebut pemberian ASI secara eksklusif. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan maksimal bila bayi hanya diberi ASI selama 6 bulan pertama kehidupannya. WHO/UNICEF bahkan sampai mengeluarkan deklarasi yang dikenal dengan nama Deklarasi Innocenti (Innocenti Declaration) untuk mendukung pemberian ASI eksklusif.

Deklarasi yang dibuat di kota Innocenti, Italia pada tahun 1990 ini bertujuan untuk melindungi, mempromosikan, dan memberi dukungan pada pemberian ASI. Indonesia mendukung gerakan ini dengan menjadi salah satu negara yang menandatangani Deklarasi Innocenti.

ASI Eksklusif sangat vital bagi kehidupan bayi karena 4 manfaat berikut,

  1. ASI sebagai nutrisi (mengandung lebih dari 200 unsur pokok seperti zat putih telur, lemak, zat kekebalan tubuh, dan lain sebagainya).
  2. ASI meningkatkan daya tahan tubuh (di antaranya berasal dari dari kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh 10 – 17 kali lebih banyak daripada susu matang).
  3. ASI meningkatkan kecerdasan (Salah satu unsur yang paling mempengaruhi aspek ini adalah kandungan 80% lemak ASI berjenis lemak ikatan panjang yang mengandung Omega 3 (EPA dan DHA) dan Omega 6 (AA), dua unsur yang merupakan komponen penting pertumbuhan otak anak).
  4. Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayinya.

Manfaat yang dikemukakan di atas bukan tanpa alasan, ataupun sekadar kebiasaan turun-temurun dari masyarakat tradisional. Sudah banyak jurnal ilmiah yang diterbitkan khusus meneliti tentang ASI eksklusif. Di antaranya adalah hasil penelitian terhadap 1000 bayi prematur yang mengungkapkan bahwa bayi prematur yang diberikan ASI eksklusif memiliki IQ lebih tinggi (8,3 poin) dibandingkan bayi yang tak diberi ASI.

Pada penelitian lain yang dilakukan Universitas Bristol, Amerika Serikat terungkap bahwa anak yang diberi ASI rata-rata memiliki kecerdasan lebih dibandingkan anak yang tak diberi ASI eksklusif. Sementara, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap bayi-bayi di Brasil Selatan, mengungkap fakta bahwa bayi yang tidak diberi ASI mempunyai kemungkinan meninggal karena mencret 14,2 kali lebih banyak daripada bayi ASI eksklusif (dr. Utami Roesli, Mengenal ASI Eksklusif, 2000).

Untuk ibu sendiri, manfaat menyusui secara eksklusif secara medis ditunjukkan, salah satunya oleh penelitian yang dilakukan oleh Yuli Admasari, Bedjo Santoso, Titi Suherni, Imam Djamaluddin Mashoedi, dan Mardiyono. Penelitian mereka menyimpulkan bahwa menyusui lebih efektif daripada povidone iodine (betadin/antiseptik) dalam pengobatan luka perineum. Intervensi ini disarankan untuk mempercepat penyembuhan luka perineum pada perawatan kebidanan pasca melahirkan. Menyusui juga menurunkan potensi terjadinya pendarahan pasca melahirkan, mengecilkan rahim, menjarangkan kehamilan, dan mengurangi terjadinya anemia dan kanker payudara/indung telur pada ibu.

Sungguh, hubungan ibu dan anak adalah sebuah simbiosis mutualisme. Yang tak kalah pentingnya dari hal-hal di atas adalah proses menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi. Hormon oksitosin yang dikeluarkan tubuh ibu saat bayi mengisap puting susu merangsang produksi air susu ibu. Hormon yang biasa juga disebut sebagai “hormon cinta” ini menciptakan perasaan nyaman, gairah, empati, ikatan, dan mengurangi stres dan kecemasan. Saat melihat bayinya, dalam keadaan tenang, produksi air susu ibu meningkat.

Timbal baliknya, bayi yang berada dalam dekapan ibunya bisa merasakan kasih sayang ibunya. Dia merasakan perasaan ibunya. Dia merasa aman dan tenteram karena masih mengenali detak jantung ibunya yang dia dengar selama dalam kandungan. Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang menjadi dasar perkembangan emosi yang baik bagi bayi. Sebuah penelitian dilakukan Paul Wilson dan Tania Wilson dari Calm Centre menjelaskan hal ini. Penelitian yang dilakukan terhadap ibu-ibu yang sedang menyusui ini mengamati aktivitas gelombang otak yang diobservasi dan dicatat selama beberapa waktu.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa pola yang terekam dari aktivitas otak bayi yang sedang disusui hampir identik dengan sang ibu. Pada saat ibu atau bayi mengalami gangguan, misalnya bayi buang angin atau ibu merasa terganggu, maka gelombang otak yang lain akan mengikuti perubahan tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa emosi dari dua orang yang mempunyai ikatan batin yang kuat cenderung bekerja secara pararel.

Manfaat yang sangat berlimpah dari interaksi ini, akan selalu dikenang seorang ibu. Berhasil menyusui buah hatinya adalah kebahagiaan tersendiri. Rasanya tak terkira dan tak tergantikan dengan apapun. Yuk, berusaha semaksimal mungkin untuk menyusui bayi kita secara eksklusif, Bu.

Referensi:

  • Mengenal ASI Eksklusif, dr. Utami Roesli, penerbit Trubus Agriwidya, 2000.
  • Belitung Nursing Journal, http://belitungraya.org/BRP/index.php/bnj/article/view/101, diakses pada 31 Juli 2017, pukul 20.30 WITA.
  • Tabloid Nakita No. 383 tahun 2006, halaman 6 – 7.
  • Manfaat Hormon Cinta Oksitosin, http://www.sehatki.com/manfaat-hormon-cinta-oksitosin.htm, diakses pada 31 Juli 2017 pukul 20.55 WITA.
  • Tenang Tidaknya Bayi Ditentukan Ketenangan Ibu, http://lifestyle.kompas.com/read/2013/09/21/1202379/Tenang.Tidaknya.Bayi.Ditentukan.Ketenangan.Ibu, diakses pada 31 Juli 2017 pukul 21.07 WITA.(mm)