Mencari Tahu Kehalalan Produk Tanpa Terjebak Berita Hoax

Sebagai mayoritas penduduk muslim, Indonesia selalu dihadapkan dengan permasalahan kehalalan  produk yang diluncurkan oleh sebuah perusahaan, baik dalam atau luar negeri. Mulai dari produk kecantikan atau perawatan, bahan makanan, makanan instan, hingga makanan siap saji di rumah makan atau resto. Demi mencari informasi tentang kebenaran ‘apakah produk itu halal atau tidak’, masyarakat cenderung memanfaatkan internet guna mencari informasi yang diperlukan. Di dalam internet, sebagian informasi yang disajikan tentu bercampur aduk antara yang benar dan tidak, sehingga jika tidak pandai memilah sumber informasi maka dapat  merugikan diri kita sendiri. Tidak sedikit para penulis yang jahil membuat postingan dengan asumsi dari satu sudut pandang tanpa mencari fakta di lapangan atau melalui data sekunder. Ha seperti itulah yang dapat menyesatkan para pembaca atau penulis lainnya yang sedang mencari informasi terkait.

Membahas tentang produk halal, maka kita akan langsung tertuju pada label halal MUI yang melekat pada kemasan suatu produk. Sebab, MUI merupakan lembaga sah yang dipercaya dan tidak diragukan lagi oleh masyarakat luas sebagai pihak yang turut bertanggungjawab atas kehalalan sebuah produk. Untuk kategori produk dalam negeri, melihat label halal  MUI yang tertera pada sebuah kemasan makanan hingga kosmetik perawatan tubuh sudah membuat konsumen merasa lega dan tidak perlu resah lagi. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semuanya label halal tersebut ditempelkan pada produk yang sudah lepas dari pengemasannya.

Contoh kecil adalah produk kecantikan yang digunakan sehari-hari, dalam botol atau wadahnya tidak memiliki label halal MUI. Namun, apakah sudah berarti produk tersebut tidak halal? Belum tentu. Kemudian, kategori selanjutnya yaitu produk makanan dan kecantikan yang berasal dari luar negeri sebagian besar memang tidak memiliki label halal MUI, lalu apakah produk tersebut sudah jelas tidak halal? Rupanya, belum tentu demikian. Permaasalahan seperti itu bukan tentang meragukan keabsahan MUI, namun pengetahuan kita mengenai hubungan perusahaan dan MUI, juga federasi Islam di negara lain. Oleh sebab itu, kurangnya keingintahuan beberapa penulis blog dalam menulis informasi, ditengarai hanya memberikan sudut pandangnya saja tanpa mau mencari tahu ke sumber aslinya. Sudut pandang tersebut memang tidak menimbulkan efek panjang jika dikonsumsi sendiri, namun pasti berdampak besar pada pola pikir masyarakat luas yang sedang bingung dan merasakan dilema terhadap suatu produk andalannya jika disebarluaskan melalui sebuah postingan blog atau media sosial. Bahkan tanpa dasar sama sekali.

Melihat menjamurnya berita hoax tentang kehalalan suatu produk, maka saya ingin berbagi mengenai

  1. Mengandalkan website milik MUI dan Fanspage khusus halal

Sebagai bentuk transparansi MUI pada masyarakat di Indonesia, para pihaknya sudah menyediakan website yang dapat diakses di www.halalmui.org.  Di dalam website tersebut, seluruh produk yang mendapat halal MUI sudah tertera jelas dari kategori hingga nama langsung produk serta jenisnya. Jadi, jika menemukan blog atau tulisan yang tidak sesuai dengan apa yang ditulis oleh MUI mengenai daftar produk halal, maka bisa dipastikan itu adalah berita hoax. Seperti kasus kopi yang cukup terkenal di Indonesia. Masyarakat dibuat  heboh oleh berita hoax mengenai kandungan kopi yang menggunakan bahan dari kode E dan dianggap itu adalah dari lemak babi, padahal kode tersebut bisa berasal dari lemak hewan lain yang belum tentu babi. Maka dari itu, MUI sebagai lembaga pengkaji bahan makanan dan peneliti kinerja perusahaan dalam mengurus kehalalan produknya dapat dijadikan sebagai tolok ukur. Terlebih lagi, untuk memudahkan masyarakat pengguna facebook, maka fanspage Halal Corner dapat dijadikan bahan rujukan atau tempat menanyakan kehalalan sebuah produk makanan yang disajikan oleh toko atau resto makanan.

  1. Adanya Federasi atau Lembaga Islam di Luar Negeri

Jika di Indonesia ada MUI sebagai lembaga yang dipercaya masyarakat untuk urusan produk halal, maka di luar negeri mereka juga memiliki lembaga yang tidak jauh berbeda dari MUI. Tugas mereka sama, yakni memeriksa dan menetapkan seluruh produk halal di bawah hukum islam, sama seperti halnya MUI. Misalnya di Korea kita akan mengenal yang bernama KMF (Korea Muslim Federation), yakni lembaga yang mengurusi sertifikasi halal produk dan mirip dengan MUI, mereka juga memiliki website transparan. KMF pun juga memberikan daftar seluruh makanan atau produk korea yang halal atau tidak, sehingga membuat kita tidak perlu cemas terhadap berita hoax yang beredar di luar. Hampir seluruh negara di dunia saat ini sudah memilki federasi muslim sendiri. Kita cukup mengetik kata ‘(negara asal) spasi federation muslim’ di kolom google untuk mencari tahu halal atau tidaknya produk yang beredar.

  1. Jika sebuah produk tidak ada label halal namun tercantum halal pada website federasi

Hal seperti ini mengacu pada dua kasus. Pertama, seperti kasus kosmetik yang kita gunakan sehari-hari dan makanan yang disajikan oleh sebuah resto. Dalam muka atau luar botol kemasan tidak memiliki label halal MUI, namun di website MUI mereka dilabelkan halal, itu artinya perusahaan disahkan halal ke perusahaannya langsung. Begitu juga dengan makanan yang disantap di resto, kita tidak tahu apakah mereka menggunakan bahan halal, namun di perusahaan terlihat paklat halal MUI, berarti dua-duanya halal. Kedua, adalah produk dari perusahaan luar negeri. Jika produk tersebut tercantum halal pada website sebuah lembaga islam di luar negeri, maka artinya halal. Namun jika terlanjur membeli produknya dan masih mengarah pada keraguan, maka kita bisa menghubungi contact person atau customer service yang dicantumkan di website tersebut agar mendapatkan penjelasan yang lebih mendetail. Dan, sebagai muslim jika menemui keragu-raguan pada suatu produk luar negeri yang halal dan kita meyakini masih belum menemukan jawabannya, maka alangkah lebih baiknya dihindari untuk menghindari syubhat.(Anisa Kautsar Juniardy)