Menapaki Megahnya Masjid Cheng Hoo Surabaya

Di depan gedung  PITI Jawa Timur, terlihat para penjual kaki lima menjajakan makanan. Tak ada yang menduga jika di dalam gedung Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, Surabaya terdapat sebuah masjid yang megah dan indah.   Sebuah masjid bersarsitektur Tionghoa tampak terlihat indah. “Saya baru pertama kali ke sini. Sebelumnya belum pernah tahu,” kata Munzir kepada Serempak.id. Warga Sidoarjo ini datang bersama istri dan anaknya. Masjid Muhammad Cheng Hoo ini terletak di Jalan Gading No 2 Kusuma Bangsa, Surabaya, Jawa Timur.
img_20160916_113636_hdr
 
Saat Serempak.id datang, pengelola yayasan sedang menyiapkan masjid dan lapangan untuk shalat Jumat. Bagian atas lapangan diletakkan penutup sehingga para jamaah bisa shalat tanpa terpapar panas matahari. Masjid ini memiliki dominasi warna merah, kuning, dan hijau. Arsitekturnya sangat dominan dengan unsur Tionghoa. Masjid ini berukuran 21 x 11 meter dengan bangunan utama berukuran 11 x 9 meter.
img_20160916_122428_hdr
 
Pembangunan masjid ini diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Masjid ini memiliki makna di balik setiap arsitektur yang dibangun. Panjang 11 meter pada bangunan utama menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter. Sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama ini diambil dari keberadaan Walisongo dalam melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Arsitektur masjid ini sangat mirip klenteng, digagas untuk menunjukkan identitas muslim Tionghoa di Indonesia.
 img_20160916_122045_hdr
Langit-langit utamanya berbentuk segi 8 (pat kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut Fat yang berarti jaya dan keberuntungan. Menariknya juga, pada sisi kanan masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakan dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam. Masjid ini dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa.
 
Laksamana Muhammad Cheng Hoo merupakan utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai Duta Perdamaian. Ia mengelilingi duia selama 7 kali berturut-turut dan menjalin hubungan perdagangan dengan negara-negara yang dikunjunginya termasuk dengan Kerajaan Majapahit. (rab)