Membangun Ekonomi Kreatif berbasis Kearifan Lokal; Roadshow Serempak 2017 Balige, Sumut

Saat ini, dunia telah memasuki era industri ekonomi kreatif.  Industri ekonomi  kreatif diprediksi akan menjadi industri masa depan yang menekankan pada gagasan dan ide kreatif. Peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional serta karakteristik Indonesia  yang terkenal dengan keragaman budayanya yang tersebar di penjuru nusantara, tentunya dapat menjadi sumber inspirasi dalam melakukan pengembangan  industri  kreatif.  Keragaman  budaya  Indonesia  menandakan  tingginya kreatifitas yang telah tertanam dalam masyarakat Indonesia. Belum  lagi dukungan  keragaman etnis  dalam masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan Indonesia memiliki faktor pendukung yang kuat dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif.

Pada kegiatan Roadshow Serempak 2017 di Balige ini, tema yang diangkat adalah “Membangun Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal”, yang mana tema tersebut sangatlah lekat dengan masyarakat Balige. Seperti kita ketahui, banyak sekali terdapat para pelaku industri ekonomi kreatif di Balige, salah  satunya adalah pengrajin tenun.

Seminar dan gelar bicara kali ini dimoderatori oleh Ibu Martha Simanjuntak, SE. MM selaku Ketua Pokja Serempak dan Founder dari IWITA (Indonesia woman IT Awareness).  Telah hadir pula narasumber-narasumber yang kompeten diantaranya Ibu Ina A. Murwani, MM.MBA selaku Deputy Head of Marketing Program BINUS Business School, Ibu Trisna Pardede sebagai CEO dari Batikta dan Ibu Ciput Purwianti sebagai perwakilan dari Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Acara Roadshow Serempak 2017 Balige ini, diawali dengan sambutan dari Bapak Bambang Abednego sebagai Wakil Rektor 3 Institut Teknologi Del yang mana Institut Teknologi Del adalah tempat berlangsungnya Roadshow Serempak ini, selain itu sambutan juga diberikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan Perlindungan anak kabupaten Balige yaitu Bapak Wasir Simanjuntak.

Sebelum masuk ke acara inti, Ibu Martha selaku moderator mengajak para peserta untuk bersama-sama menyanyikan yel-yel untuk menambah semangat.

Pada sesi pertama, Ibu Ciput Purwianti membahas tentang index pembangunan manusia. Kualitas sumber daya manusia pada sebuah negara diukur dari kemajuannya dan hasil pembangunannya. Apa saja yang diukur dari kualitas hidup manusia itu? Ada tiga aspek yang diukur. Yang pertama adalah dari aspek kesehatan, seberapa tahan manusia itu hidup atau sampai berapa lama umurnya?  Setiap tahun Indonesia mengalami peningkatan pada rata-rata usia harapan hidup. Pada tahun 70-an, angka harapan hidup rata-rata Indonesia hanya sampai pada umur 61 tahun, tapi sekarang bisa kita lihat, bahkan masyarakat yang lahir pada tahun 60-an masih  sehat, semangat dan aktif beraktivitas. Itu adalah salah satu dari berbagai upaya pemerintah untuk melakukan pembangunan kesehatan, seperti upaya pemerintah untuk meningkatkan harapan hidup adalah dengan pengadaan program imunisasi.

Yang kedua adalah tingkat pengetahuan dari penduduknnya. Indonesia diukur dari rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah. Secara nasional, harapan lama sekolah rata-rata penduduk Indonesia, yaitu sampai pada umur 18 tahun pada jenjang SMA. Tetapi, masih banyak penduduk yang bersekolah hanya sampai pada jenjang SMP saja. Ini adalah PR yang harus diperbaiki. Apalagi masih banyak yang memiliki preferensi  bahwa  anak laki-laki yang harus sekolah lebih tinggi, padahal secara undang-undang perempuan juga memiliki hak yang sama.

Yang ketiga adalah kemampuan ekonomi dari penduduknya. Hal tersebut diukur dari pengeluaran per kapita. Pengeluaran per kapita adalah pengeluaran dari setiap orang selama 1 tahun. Secara tren dari tahun ke tahun, index pembangunan manusia di indonesia selalu meningkat (selalu naik), tapi  rata-rata peningkatan tiap tahun naiknya hanya sedikit. Mengapa? Padahal di tingkat pendidikan sudah semakin tinggi, bahkan sampai sekarang anak-anak yang menempuh pendidikan sampai lulus di tingkat SMP dengan presentasenya sudah sampai 90%, SMA memang masih tergolong  rendah. Itu menandakan adanya peningkatan. Ternyata, hambatannya itu ada pada ekonomi (pendapatan). Pendapatan tersebut diukur dari kemampuan daya beli masyarakat. Kemampuan daya beli di Indonesia masih tergolong rendah. Mengapa? Karena banyak nilai-nilai ekonomi perempuan yang tidak tercatat secara statistik. Misalkan, pada saat dilakukan sensus penduduk, petugas menanyakan apa pekerjaan para ibu setiap harinya? Mereka menyatakan hanya mengurus suami dan anak, tetapi melakukan aktivitas menenun tidak mereka utarakan. Padahal, menenun termasuk aktivitas yang dapat menghasilkan uang. Jadi, seringkali para perempuan mengdiskreditkan dirinya sendiri terhadap perkembangan ekonomi yang ia berikan pada keluarga dan juga bangsa ini. Karena tidak dinyatakan dan diukur, maka sumbangan ekonomi perempuan tidak terlihat.

Kearifan lokal memang harus dijaga dan ditularkan pada generasi yang lebih muda, tetapi bagaimana meningkatkan nilainya. Apa kuncinya bagi perempuan agar karya-karyanya tersebut bisa maju? Salah satunya adalah dengan memperkuat inovasi dan juga tidak gagap teknologi.  Karena pada dasarnya teknologi diciptakan untuk membantu kita, bukan untuk mempersulit. Partisipasi perempuan dibidang informal selama ini sangat besar di wilayah Sumatera Utara, data statistik tahun 2015 mencatat 69,7 % perempuan lebih banyak di sektor informal. Apa itu sektor informal? Contohnya adalah perempuan-perempuan pengrajin tenun ulos atau usaha kue yang dibuat sendiri tanpa bantuan orang lain. Para pengrajin ulos juga termasuk dalam kategori industri rumahan walaupun dalam skala kecil. Pemerintah bisa melakukan pemetaan, memetakan siapa saja pelaku-pelaku industri rumahan yang ada di kabupaten Tobasa. Memetakan siapa pelakunya, potensinya seperti apa dan itu semua bisa dielaborasi untuk meningkatan potensi unggulan daerahnya

Setelah pemaparan dari Ibu Ciput selesai, kemudian dilanjutkan dengan Ibu Ina. Ibu Ina kali ini membicarakan mengenai Branding dan Promotion. Bagaimana cara untuk meningkatkan ekonomi kreatif pada suatu daerah sehingga dapat dikenal luas? Caranya adalah dengan bercerita. Berceritalah sebanyak-banyaknya dan promosikan apa yang menjadi kebanggan dari daerah kita. Cerita-cerita tersebut bisa dimaksimalkan dengan menggunakan internet. Cara tersebut bisa membantu para pengrajin ulos di Balige untuk mempromosikan hasil karyanya. Menurut Ibu Ina, akun media sosial seperti facebook dan instagram dapat membuat kain ulos menjadi tren. Dengan penggunaan terknologi itu pula, bisa digunakan untuk meningkatkan pendapatan.

Selanjutnya, penyampaian dari Ibu Trisna Pardede, beliau mengajak peserta untuk mencintai budaya dan apa yang kita punya. Dengan mencintai dan bangga dengan apa yang kita punya, maka akan tumbuh rasa peduli untuk menjaganya. Selain itu, Ibu Trisna juga mengajak para pengrajin ulos di Balige untuk berkolaborasi dengan Batikta. Batikta sendiri telah memperkenalkan ulos dan tenun ke luar daerah melalui sosial media, dengan dilakukakannya kolaborasi diharapkan dapat membuat para pengrajin ulos dan tenun di Balige dapat mempromosikan karyanya lebih luas lagi.

Setelah para narasumber selesai menyampaikan materinya, Ibu Martha memberikan informasi mengenai portal website Serempak yang dilanjutkan dengan sesi kuis dan pembagian hadiah untuk menambah memeriahkan acara. Sebelum acara diakhiri, penyampaian Keynote Speech disampaikan oleh Ibu Ratna Susianawati, SH.MH sebagai Asisten Deputi Kesetaraan Gender bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kemudian acara ditutup dengan sesi foto dan ramah tamah.(LY)