Melatih Rasa Berkecukupan dalam Diri Anak

Kita mengetahui bahwa uang adalah salah satu komponen vital pada setiap aspek kehidupan. Meski hanya berupa lembaran kertas, uang disepakati menjadi alat tukar menukar yang sah dan, karenanya, nilainya sangat berarti. Karena hal tersebut, kita terus tanpa henti bekerja dan berkorban demi mendapatkan uang. Tapi, pernahkah kita belajar mengenai arti cukup terhadap uang?

Acap kali kita jumpai iklan di televisi yang menawarkan perencanaan keuangan seakan menggambarkan kebebasan kita dari rutinitas mencari uang ketika pensiun. Kita melihat orang berwisata, tertawa, berlayar ataupun aktivitas berpergian lainnya seakan tidak ada yang perlu mereka khawatirkan di dunia ini sambil berkata “aaah… pensiun… kebebasan…”. Namun jujur saja, bagi saya pribadi, iklan tersebut justru menimbulkan emosi yang sebaliknya, seperti kegelisahan soal ‘bagaimana kalau kita tidak memiliki cukup? Dan, kapan kita merasa cukup?

Buku pun menyiratkan pesan serupa. Hampir semua buku tentang perencanaan keuangan menanamkan keyakinan bahwa tidak pernah ada yang namanya cukup. Dengan kata lain, kita tidak akan pernah berhenti memikirkan dan mengkhawatirkan uang.

Kekhawatiran yang terus menerus ini ibarat penyakit yang menggerogoti tahun-tahun terbaik kamu ketika orang benar-benar memiliki kesehatan, waktu, dan energi untuk menikmati kehidupan bersama keluargamu. Kekhawatiran tak berujung inilah yang menjadi fokus kita yang tak pernah memahami arti cukup sehingga diperbudak oleh uang, bahkan rela mengambil risiko yang lebih untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Jika mengaitkan dengan kehidupan keluarga, saya yakin orang tua saya tidak mengetahui bahwa kebiasaan borosnya ayah terukir begitu dalam pada diri saya sebagai seorang anak. Untuk itu alangkah baiknya kita sebagai orang tua memahami dan memberikan pelajaran agar anak lebih bijak mengelola uang sejak dini. Tentu orang tua pasti berharap anak-anak mereka kelak berkecukupan dalam segi finansial dan tidak merasakan kerasnya kemiskinan.

Orang tua sejak dini juga harus menanamkan arti cukup dalam keuangan menghargai uang dan dan segala jerih payah untuk mendapatkannya. Memang benar anak-anak masih terlalu muda untuk merencanakan keuangan, tapi setidaknya penting bagi mereka untuk memahami arti cukup dan perasaan bersyukur yang kuat dalam diri mereka.

Kita tentu juga terbiasa akan pepatah “ala bisa karena biasa”. Yup, ini adalah cara termudah untuk menanamkan kepada anak tentang uang. Melalui kegiatan keseharian, kita dapat mulai melatih mereka untuk mandiri dalam mengelola uang.

Ajarkan pada anak untuk dapat menerapkan tiga teori penting yaitu berderma, menabung, dan membelanjakan. Pertama adalah berderma. Berderma mengajarkan anak untuk berbagai dan selalu ingat bahwa ada hak dan bagian dari orang-orang yang kurang beruntung dalam setiap uang yang kita hasilkan dari keringat kita. Beri ia contoh konkrit tentang aktivitas pekerjaan berat yang ada di lingkungan sekitar sehingga tumbuh rasa iba dan rela berbagi dalam dirinya.

Kedua adalah menabung. Berikan penjelasan tentang pentingnya menabung untuk kepentingnya di masa depannya. Tentu di masa awal akan sangat sulit untuk mendisiplinkan hal ini. Tanyakan salah satu benda kesukaan anak kamu yang sangat ingin dia miliki namun memiliki harga yang cukup mahal, kemudian jadikan jalan menabung menjadi satu-satunya pilihan untuk mendapatkan barang tersebut.

Ketiga adalah membelanjakan. Ini mungkin jadi bagian yang menyenangkan dari semua proses. Namun, ini yang justru perlu menjadi perhatian utama. Tanamkan pada anak-anak mengenai pembelanjaan uang berdasarkan prioritas kebutuhan dan keinginan.

Lewat latihan menabung, rasa syukur dan rasa ingin berbagi kepada sesama akan dapat menumbuhkan rasa cukup dan rasa tentram pada anak dalam mengelola keuangan di kemudian hari. Peran serta orang tua sangatlah penting di sini, karena selain untuk mendisiplinkan anak, juga sebagai figur teladan dalam mengelola keuangan. Ingat, anakmu di masa depan adalah cerminan dirimu masa kini.(aaw)