Literasi Digital Untuk Cahaya Negeri di Timur Indonesia

Literasi digital merupakan kemampuan untuk dapat mengerjakan segala hal di lingkungan digital berbasis komputer dan ikut aktif dalam proses pengembangan teknologi terkini, dan juga Kemampuan untuk menggunakan beragam teknologi digital agar dapat membuat, menempatkan, dan mengevaluasi informasi.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) merupakan salah satu kementerian yang turut berperan dalam upaya meningkatkan kualitas dan akses terhadap layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan dengan TIK dengan mengusung program Literasi Digital.

Jayapura merupakan kota yang berada di paling timur di Indonesia sekaligus ibukota Provinsi Papua. Pulau yang berada paling timur kepulauan Nusantara ini seperti tempat dilahirkannya cahaya emas atau tempat terbitnya matahari. Bumi yang mengandung dan melahirkan (terbitnya) matahari, tetapi juga bisa diartikan sebagi bumi yang mengandung atau menyimpan cahaya emas. Maka, Jayapura memiliki sejumlah keunggulan yang cukup potensial dan diperhitungkan, baik dari sektor industri, pertambangan, pertanian, maupun Perkebunan.

Dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara optimal dan berkelanjutan, dapat mendorong kemudahan akses masyarakat dan memunculkan kondisi yang mendukung pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat Jayapura.

Seperti pesan dari presiden Indonesia Bapak Joko Widodo, alangkah baiknya jika sesuatu dimulai dari timur. Seperti matahari pagi yang setiap hari menyinari bangsa ini terbit dari timur. Maka program literasi digital ini pertama kali dilaksanakan di provinsi papua, bertempat di SMA Negeri 1 Jayapura dengan mengangkat tema Literasi Digital Untuk Cahaya Negeri di Timur Indonesia.

Seminar dan Gelar bicara kali ini di moderatori oleh Ibu Martha Simanjuntak, SE. MM selaku Founder dari IWITA (Indonesian Women IT Awareness).  Telah hadir pula narasumber-narasumber yang sangat menginspirasi diantaranya  Kakak Markus Y. Imbiri selaku Ketua II Bidang Literasi Digital & Advokasi Relawan TIK serta Kakak Alldo F. Mooy sebagai Pendiri dari Komunitas Blogger Papua yang sudah sangat dikenal oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Jayapura.

Acara dimulai dengan diawali sambutan dari Ibu Ratna Susianawati, SH. MH. Beliau adalah Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Literasi digital merupakan salah satu program yg menjadi prioritas dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Bicara mengenai teknologi, tentunya teknologi  ini sudah berkembang dengan sangat pesat terutama dikalangan anak-anak bahkan diusia dini. Di jaman sekarang ini semua orang sudah memiliki Handphone, tanpa disadari gadget sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Kita memang membutuhkan teknologi, tetapi yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana kita bisa menggunakan teknologi yang aman, teknologi yang sesuai kebutuhan dan memanfaatkan teknologi berdasarkan budaya. Beliau berpesan kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Jayapura untuk tetap bijak dan jangan terlena dengan teknologi. Misalnya, sekarang ini para pelajar mengerjakan PR bisa dengan mudah mengandalkan Google. Tetapi jangan lupa ada hal yang tidak kalah penting yaitu membaca. Kalau semuanya mengandalkan teknologi, maka kita akan menjadi malas, selain itu yang perlu diingat  kalau kita  tidak bisa menguasai teknologi maka kita akan terjerumus. Oleh karena itu kuasailah teknologi, jangan biarkan teknologi yang menguasai kita. Beliau yakin nantinya jayapura akan menjadi salah satu smart city. Smart city harus diimbangi dengan smart people. Semua siap dengan teknologi canggih, tetapi jika tidak diimbangi dengan kekuatan sumber daya manusia yang bermanfaat maka tidak akan menjadi keseimbangan.

Gelar bicara dimulai, dengan di moderatori oleh ibu Martha Simanjutak dari IWITA (Indonesia Women IT Awareness). Sebelum masuk ke  acara inti, untuk menambah semangat dan keceriaan ibu Martha mengajak para peserta untuk menyanyikan yel-yel, dan tak lupa hadiah diberikan kepada peserta terpilih yang terlihat paling bersemangat.

Paparan pertama dimulai oleh Kakak Markus Y. Imbiri. Berbicara tentang literasi, memang papua belum seperti di wilayah barat indonesia. Tetapi warga papua tetap optimis bahwa beberapa tahun terakhir terlihat angka buta huruf semakin menurun, dan juga sudah ada terobosan-terobosan untuk perubahan di tanah papua tercinta ini. Dulu kita sering mendengar orang berkata mulutmu harimaumu. Tapi saat ini, jempolmu harimaumu. Karena hampir rata-rata sekarang ini, sehabis bangun tidur yang langsung dilakukan adalah update status di facebook dan media sosial lainnya. Memang ini adalah fenomena yang tidak bisa kita hindari, tetapi tetap harus ada rambu-rambunya. Beberapa hal yang harus kita antisipasi adalah dengan membaca. Beberapa tokoh-tokoh bangsawan seperti nelson Mandela, beliau menyatakan membaca dan belajar adalah senjata mematikan, siapa yang paling banyak baca, dialah yang paling banyak tahu. Hampir setiap hari kita sering mengkonsumsi berita dari media sosial dan media lainnya, tetapi yang harus diantisipasi adalah kita harus melihat tanggal dan waktu. Biasanya kita melihat twitter dan facebook tanpa melihat waktu kapan berita itu dibuat. Selain itu apabila kita melihat berita yang menyinggung tentang suku, ras, golongan tertentu dan sebagainya, janganlah kita langsung beraksi, berkomentar ataupun marah. Kita harus melihat kebenarannya terlebih  dahulu. Selain itu pada saat menulis sesuatu di sosial media usahakan jangan menyinggung sara, suku, agama ataupun ras . Bisa jadi karena satu persoalan, menimbulkan kehebohan di satu republik ini. Jadi, jempol kita  juga bisa menjadi harimau kita.

Paparan selanjutnya dibawakan oleh kakak Alldo F. Mooy beliau menceritakan awal pertama kali mendirikan komunitas blogger papua. Apa yang membuat beliau mendirikan komunitas blogger papua? Alasannya karena sekitar tahun 2012 anak-anak di papua belum ada yang tertarik bermain di internet, membuat tulisan dan sebagainya. Sekarang ini, menulis konten di blog itu bukan hanya sekedar menulis, tapi bisa juga dikolaborasikan dengan fotografi dan juga video. Contohnya bisa dilihat di situs bloggerpapua.or.id. Disitulah para komunitas blogger papua menuliskan hasil karyanya, bagi yang suka dengan menulis bisa ikut berkontribusi di website tersebut.

Kalau dulu ada namanya blogger, sekarang ada vlogger.  Vlog berupa video yang berisi  jurnal sehari-hari, bisa diupload di youtube atau facebook. Di komuitas blogger papua, para blogger juga dilatih untuk membuat vlog. Kita semua tahu bahwa Papua terkenal dengan keindahan alamnya, hari ini kebanyakan orang luarlah yang mempromosikan wisata di papua. Kaka Aldo  menyarankan jika teman-teman suka bermain facebook live atau  menonton youtube, tidak ada salahnya menjadi creator youtube. Setiap tahun Google Indonesia mengumpulkan anak-anak youtube creative untuk berkumpul dijakarta dan dilatih. Tipsnya adalah cobalah untuk membuat liputan-liputan kecil apa saja yang sifatnya mempromosikan kekayaan daerah. Blogger papua juga bekerja sama dengan relawan TIK dari tahun 2011 dan berkolaborasi untuk menciptakan para kreatif-kreatif muda di papua.

Selain paparan dari narasumber yang inspiratif, para peserta juga menantikan paparan dari Plt Deputi Kesetaran Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI yaitu ibu Ir. Agustina Erni Susiyanti, M.Sc. Sebelum Ibu Erni menyampaikan paparannya, sambutan selamat datang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jayapura yaitu Bapak Drs. Arianto Kadir, M.Si.

Ibu Erni  mengatakan beliau sangat bangga bisa hadir di SMA Negeri 1 jayapura, selain karena merupakan SMA terbaik di jayapura,  siswa-siswinya juga kerap menorehkan berbagai macam prestasi. Kedepannya bangsa ini memang menjadi tanggung jawab para generasi muda yaitu yang sekarang kita kenal dengan generasi millenial. Kalau generasi SMA, Perguruan Tinggi maju, maka akan besarlah negara ini karena mereka adalah penerus-penerus generasi kita. Apa itu literasi? Literasi adalah bagaimana kita mendapatkan informasi, memahami, mengolah dan mempublikasikannya. Kedepannya digital atau TIK akan menjadi salah satu alat tawar menawar yang paling strategis. Siapa yang paling banyak mendapatkan informasi, dialah yang paling bisa maju. Kita sudah diberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi, dan bagaimana kita membagi informasi tersebut melalui era digital.

Internet diibaratkan seperti kopi yang sudah sangat pekat. Disaring pun tidak bisa, salah satu upaya agar informasi yang negatif tidak dengan mudah menyerang anak-anak adalah dengan menambahkan informasi yang positif. Jadi Para pelajar, guru-guru dan blogger inilah yang harus memberikan informasi-informasi yang positif sehingga pada saat adik, kakak atau orang tua kita mencari informasi, betul-betul mendapatkan informasi yang positif. Beliau berharap SMA Negeri 1 bisa menjadi contoh bagaimana memberikan pemahaman kepada teman-teman dari sekolah lain untuk secara positif merespon media-media online. Dengan literasi digital, diharapkan program 3end (Akhiri kekerasan pada perempuan, Akhiri perdagangan manusia dan Akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan) bisa dipercepat, tidak hanya secara konvensional tapi juga dengan memanfaatkan teknologi.

Setelah paparan dari ibu Erni selesai, tibalah saat sesi tanya jawab. Para peserta antusias untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada nara sumber. Sebelum acara diakhiri, perwakilan dari SMA Negeri 1 Jayapura mempersembahkan sebuah lagu yang berjudul “Tertinggal di Papua”. Acara kemudian diakhiri yang diikut dengan sesi foto bersama dan ramah tamah.(ly)