Kain Besurek, Batik Kebanggaan Bengkulu

Setiap daerah memiliki kekhasan pakaian. Seperti Bengkulu, yang memiliki batik besurek. Awalnya, batik besurek tak banyak dikenal. Namun dengan berjalannya waktu, batik besurek semakin mengemuka. Besurek berarti sesuatu yang ditulis. Jadi, kain besurek berarti kain yang ditulisi. Kain besurek dikenal di Bengkulu saat masuknya Islam ke Bengkulu yakni pada abad ke 16. Batik tulis ini terbuat dari bahan benang kapas. Tulisan-tulisan di kain besurek berisikan kaligrafi Arab namun tak memiliki makna. Kaligrafi Arab tersebut kemudian dipadupadankan dengan motif alam.img_20161007_153029
 
Berdasarkan website batik.or.id, batik besurek di Bengkulu ini diperkenalkan oleh saudagar dan seniman batik dari Demak. Hal ini dapat ditelusuri dari sejarah Kesultanan Demak (Kerajaan Islam pertama dan terbesar di Pulau Jawa 1475-1548. Pada masa kejayaan Kesultanan Demak, banyak pembatik yang membuat batik bermotifkan kaligrafi Demak. Lama kelamaan motif ini berkembang luas di masyarakat Demak dan kemudian tersebar di beberapa kerjaan lain yang menjadi mitra dagang Kesultanan Demak, seperti Jambi dan Bengkulu. Namun ada yang menyebutkan kain Bengkulu merupakan perpaduan dari motif kaligrafi daerah Jambi dan Cirebon yang kemudian diadaptasi sebagai kain khas Bengkulu.
 
Muhardi, Kepala Seksi, Konservasi dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu mengatakan, dulu, hanya masyarakat dari kalangan mampu saja yang lebih banyak menggunakan kain besurek. “Kain besurek kerapkali digunakan saat upacara terkait siklus hidup manusia di Bengkulu,” kata Pak Muhardi kepada Serempak.id. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Ada kain besurek yang digunakan pada upacara cukur rambut bayi usia tujuh hari. Warna merah hati dengan tulisan putih melambangkan sifat religius. Ketika acara akikah, anak diletakkan di kain besurek, kemudian diayunkan sambil mendendangkan lagu.  Saat upacara pernikahan, terdapat tradisi ziarah ke kubur. Saat ziarah itu, calon pengantin menggunakan kain besurek yang berwarna biru atau cokelat kehitam-hitaman berukuran 225×105 cm. Motifnya kain besurek adalah aksara arab dipadukan dengan kembang melati serta pola garis. 
img_20161007_152812
 
Kain besurek ini juga digunakan perempuan yang akan meratakan giginya sebelum menikah. Tradisi ini masih dilestarikan hingga kini. Perempuan yang menjalani upacara akan meletakkan kain besurek di pundaknya. Saat meninggal, kain besurek digunakan untuk menutup jenasah sebelum jenasah dimandikan. Pewarnaan kain besurek berasal dari bahan-bahan alami. Warna biru berasal dari daun timbuak yang menghasilkan pewarna biru kehitam-hitaman. Sedangkan penggunaan getah gambir mampu menghasilkan warna merah marun.
 
Pak Muhardi mengatakan, di  Museum Negeri Bengkulu hingga kini kain besurek memiliki 38 kain besurek yang dipamerkan di Museum Negeri Bengkulu. Hanya saja, tak diketahui usia kain-kain yang menjadi koleksi museum itu. Ini dikarenakan saat penerimaan koleksi, pemiliknya tak tahu usia kain yang dimiliki. Namun diperkirakan, usia kain paling tua adalah 100 tahun-an karena berasal dari tiga generasi ke atas saat koleksi ini diperoleh pada tahun 1980-an.(rab)