Dewi Deesha dari Hobi Menjahit Kini Jadi Pengusaha Busana Muslim

Hobi kini tak lagi sekadar aktivitas untuk menghabiskan waktu. Tapi juga bisa jadi kegiatan yang menghasilkan uang. Bahkan, tak jarang demi menyalurkan hobi, sejumlah perempuan rela meninggalkan kariernya.

Salah satu perempuan yang rela meninggalkan kariernya demi menjalani hobinya adalah Dewi Sri Nurwani. Karena hobi menjahit dan ketertarikan pada fashion, perempuan bertubuh langsing ini meninggalkan kariernya di sebuah perusahaan energi, dan membangun usaha pakaian muslim yang diberi nama “Deesha”.

Menjalani usaha sejak 2010 ketika masih bekerja kantoran, Dewi melihat usaha busana muslim punya prospek yang sangat cerah. Bukan hanya karena mayoritas penduduknya muslim, tapi juga karena pemerintah tengah bersiap agar Indonesia menjadi kiblat usaha pakaian muslim di tahun 2020.

Menjalani usaha sekaligus bekerja kantoran tentu tidak mudah. Maka, di awal 2015, kala industri minyak dan gas tengah anjlok, Dewi kemudian mengambil keputusan berani, meninggalkan kariernya dan membesarkan Deesha, yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

Membangun usaha yang tadinya hanya dijalani sambil lalu tentu tidak mudah. Maka, sebelum berhenti berkarier, Dewi kemudian menyiapkan strategi untuk menjalani usaha busana muslim, di antara strateginya adalah survei, riset dan bekerja sama dengan offline store serta e commerce. Tak hanya itu, Dewi juga mempelajari strategi pemasaran di laman social media Instagram dan yang terpenting mempersiapkan katalog dan melihat tren fashion terbaru.

Dua tahun fokus menjalani usaha pakaian muslim, kerja keras Dewi tak sia-sia, Deesha yang dibangunnya dengan keringat dan air mata mulai memperlihatkan hasilnya. Produknya tak hanya digemari perempuan di tanah air, tapi juga di luar negeri. Apalagi ketika hari raya dan akhir tahun tiba, penjualan produknya bisa berkali lipat jumlahnya.

Industri baju muslim di tanah air memang tengah menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Booming ini dimulai pada tahun 2010, yang ditandai dengan munculnya desainer busana muslim yang masih berusia muda. Sebut saja Dian Pelangi, Restu Anggraini, Norma Hauri, Annisa Hasibuan, hingga Zaskia Sungkar yang bahkan seringkali diundang atau ikut serta dalam pagelaran fashion bergengsi seperti di New York, London, Japan, Dubai.

Tak hanya sekadar mengikuti pagelaran busana, para desainer muda ini juga menjadi pembicara tentang perkembangan fashion baju muslim. Deretan desainer ini juga menjadi inspirasi Dewi dalam membesarkan Deesha, tanpa meninggalkan ciri khasnya, sweet and simple outfit.

Menjalani usaha busana muslim di zaman sekarang memang berbeda ketika sepuluh atau dua puluh tahun lampau. Sebagai desainer, Dewi pun merasakan hal ini. Salah satunya kemudahan menjual produk lewat social media seperti Instagram atau pemasaran lewat e-commerce seperti Hijup atau Hijabenka. “Bahkan, pembelian lebih banyak di online ketimbang di offline store,” jelas Dewi Sri.

Dewi pun rajin mengendorse selebgram – sebutan untuk pemilik akun Instagram yang memiliki banyak followers. Namun, untuk meng-endorse selebgram tentu perlu penilaian yang sangat selektif. Ini dia penilaian yang biasanya dilakukan Dewi untuk memilih selebgram :

  1. Perhatikan jumlah pengikut juga likersnya. Dari sini bisa dilihat keterikatan pemilik akun dengan pengikutnya.
  2. Perhatikan popularitasnya. Apakah sebatas di Instagram atau juga sudah menjadi Brand Ambassador merek komersil?
  3. Lihat profil selebgramnya, dan juga pengikutnya. Dari sini bisa dilihat apakah pengikutnya sesuai dengan target pasar produk kita?
  4. Lihat juga fashion feed-nya, apakah sesuai dengan karakter produkmu?
  5. Jika hendak meng-endorse kalangan selebriti, lihat fesyen feednya. Karena kadang yang terkenal justru fesyen feednya tidak sesuai, dan sebaliknya, selebriti yang popularitasnya biasa saja justru lebih fashionable dan feed-nya bagus.

Pemasaran produk dengan mengendorse selebgram memang tengah menjadi tren. Menurut Dewi, banyak manfaat yang dirasakan setelah mengendorse selebgram yang sesuai karakter produk. Diantaranya  ada penambahan jumlah pengikut, penjualan serta omset yang bertambah baik secara online maupun offline. Karena itu, sangat penting melakukan seleksi ketika mengendorse selebgram, agar hasilnya maksimal.

Seiring tren, pelaku usaha pakaian muslim juga kian banyak,  yang mengakibatkan persaingan kian ketat yang membuat standar harga jadi menurun.

Untuk menjalani usaha pakaian muslim ini, sesungguhnya tidak membutuhkan modal terlalu besar. Apalagi, menurut Dewi lebih menguntungkan jika proses produksi dipercayakan kepada penjahit yang hasil kerjanya sudah lolos uji kualitas. “Di usaha pakaian, kualitas dan kenyamanan saat menggunakan produk adalah hal nomor satu. Karena factor kepercayaan pembeli saat membeli produk adalah hal yang tidak bisa ditolerir,” jelas perempuan kelahiran 1982 ini.

Dari pengalamannya menjalani usaha pakaian muslim, Dewi pun menyarankan agar sebagai produsen bekerjasama dengan e-commerce untuk melebarkan pangsa pasar. “Tahap kurasi yang menjadi awal memang sangat menentukan. Maka, siapkan presentasi terbaik, perlihatkan produk yang kualitasnya baik dan stabil, juga stok yang cukup, sehingga kerja sama berjalan baik,” tutup bu dua anak ini.(mhp)