Dahsyatnya Komunikasi Non-Verbal dalam Politik

Sebuah survei psikologi mengatakan bahwa 70% masa depan seseorang ditentukan oleh komunikasi. Sinergis dengan hal itu, kalangan konsultan perilaku mendukung hasil survei yang mengatakan 70% masa depan seseorang ditentukan oleh etika perilaku. Kalau hasil kedua survei tersebut dipakai untuk membedah potensi pasar demokrasi Indonesia 2019, bisa dikatakan bahwa indikator keterpilihan seorang politisi pada pemilu legislatif 2019 dapat dilihat dari sejauh mana kemampuannya berkomunikasi dan etika perilakunya dalam masyarakat. Berangkat dari dua indikator keterpilihan itulah, maka politisi perempuan harus memahami dahsyatnya pengaruh komunikasi non-verbal dalam politik.

Pengaruh Komunikasi Non-verbal dalam politik

Bentuk komunikasi yang paling mendasar dan sangat menentukan dalam mempengaruhi orang lain, adalah komunikasi non-verbal. Menurut antropolog, sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka telah menggunakan gerakan-gerakan tubuh, bahasa tubuh (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam konteks komunikasi politik, berikut ini adalah beberapa contoh komunikasi non-verbal dan pengaruhnya dalam meraih simpati orang lain.

  1. Semua atribut yang melekat pada diri seseorang menjadi alat komunikasi kepada orang lain. Seorang perempuan yang berkunjung ke kampung memenuhi undangan pernikahan memakai baju yang seksi, secara tidak langsung telah memproklamirkan diri sebagai perempuan yang kurang mematuhi etika.
  2. Berkunjung ke pasar tradisional dengan memakai semua perhiasan akan menyampaikan pesan kepada orang di sekitar bahwa orang tersebut haus pujian dan selalu menganggap diri lebih hebat dibanding orang lain.
  3. Menutup pintu rumah di tengah kerumunan orang yang sedang bergotong royong membersihkan got dari ancaman nyamuk demam berdarah menyiratkan pesan bahwa orang tersebut miskin jiwa sosial.
  4. Bertolak pinggang sambil menunjuk-nunjuk, memerintah orang di tengah komunitas yang sedang berkeringat membangun masjid akan memunculkan kesan sebagai orang yang kurang bijaksana.
  5. Mengendarai mobil sambil kaca tertutup memasuki kompleks perumahannya bisa ditafsirkan sebagai tetangga yang sombong dan tidak mau peduli akan kehadiran orang lain.
  6. Malas tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya ketika di kantor, di tengah perjalanan, atau di lingkungan, akan memunculkan kesan orang yang sombong dan angkuh.

Semua contoh di atas adalah komunikasi non-verbal yang sangat menentukan apakah seseorang yang ingin maju dan terpilih dalam pemilu legislatif. Dalam konteks pasar demokrasi, komunikasi non-verbal memiliki pengaruh yang lebih besar daripada komunikasi verbal. Hal ini disebabkan, karena secara psikologis orang cenderung lebih mempercayai observasi visual (apa yang dilihatnya). Manusia lebih mudah berbohong kepada orang lain dengan menggunakan bahasa verbal daripada menggunakan non-verbal. Orang cenderung apriori kepada seorang politisi yang menggunakan mobil BMW mengajak rakyat hidup sederhana.

Menurut para ahli komunikasi dunia, Obama seorang politisi kulit hitam mampu menghipnotis mayoritas penduduk Amerika Serikat yang berkulit putih karena kecerdasannya menggunakan bahasa non-verbal jauh sebelum masuk ke wilayah politik. Karakter alaminya yang selalu diapresiasi lingkungan sosialnya adalah sikapnya yang murah senyum dan selalu menghormati orang lain tanpa melihat status orang lain. Tidak pernah menunda untuk menyapa orang lain, walau cuma sekedar menanyakan kabar dan kesehatan. Tidak pernah enggan melambaikan tangan kepada orang lain yang mengisyaratkan adanya perhatian dalam pergaulan.

Obama tidak beragama Islam, tapi tanpa disadari ia sudah menerapkan konsep islami di setiap langkahnya menuju gedung putih. Obama mempraktekan konsep yang sangat familiar di telinga semua orang Islam, yaitu ā€œHablulminannas dan Silaturhamiā€. Sejak menentukan sikap hingga menjadi politisi, Obama tidak pernah jenuh tersenyum dan menyapa sahabat-sahabat baru. Komunikasi politik yang dipakai adalah gabungan komunikasi verbal dan non-verbal untuk menyentuh hati setiap orang yang melihat dan mendengarkannya. Jadi, kepada politisi perempuan dalam menuju 2019, jangan pernah lupa untuk memelihara komunikasi non-verbal. Jangan menunda untuk berinvestasi dukungan lewat senyum atau lambaian tangan kepada sahabat-sahabat baru. Kalau semua itu sudah dilakukan, perhatikan apa yang akan Anda raih di pasar demokrasi Indonesia 2019 nanti. (sm)

Sumber Bacaan:

Ruslan Ismail Mage, Komat Kamit Politik, Ruslan Ismail Mage, 20

Ruslan Ismail Mage, Hitam Putih Demokrasi: Kepemimpinan dan Pemilukada, 2012