Cagar Budaya di Bogor

Salah satu tujuan datang ke suatu kota adalah mengunjungi sejarah di budaya itu. Banyak kota yang menawarkan tempat wisata yang merupakan bangunan cagar budaya. Misalnya di Bogor. Di Bogor, banyak sekali bangunan yang merupakan cagar budaya. Hingga kini, bangunan cagar budaya itu masih dilindungi dan kondisinya masih bagus. Serempak.id mencoba merangkum berdasarkan buku “Bangunan Cagar Budaya Kota Bogor” yang disusun oleh Pemerintah Kota Bogor.

1.    Museum Zoologi

Bangunan ini didirikan pada tahun 1894 oleh Dr J.C. Koningsberger. Awal bangunanya hanya berupa sebuah ruangan yang kecil dan sederhana. Tujuan semula sebagai laboratorium untuk penelitian hewan pengganggu tanaman pertanian. Mulanya museum ini bernama Landbouw Zoologisch Laboratorium. Hingga kini, bangunan seluas + 756,90 m2 ini masih utuh dan tidak berubah secara struktur.

2.    Gereja Katedral

Pada tahun 1886, MGR. A. C. Claessens membeli lahan dan kemudian dibuka sebuah panti asuhan yang diberi nama Vincentius. Di lahan itu pula pada tahun 1896 keponakannya membangun gereja untuk umat Katolik. Semakin lama, umat yang beribadah kian banyak sehingga diperlukan gereja yang lebih besar. Pada tahun 1905 didirikan sebuah katedral, seperti yang terlihat sekarang. Di lahan itu pula pada tahun 1926, Ny Schmutzer-Henriks mendirikan sebuah yayasan yang bernama Katholieke Jeudge Organitatie (KJO) untuk menampung kegiatan kepemudaan. Bangunan ini terletak di Jalan Kapten Muslihat No 22, Bogor, Jawa Barat.

3.    Rumah Sakit Salak

Rumah sakit ini didirikan pada abad 18, awalnya sebagai asrama tentara Belanda yang bertugas mengawal istana Bogor. Kini, bangunan ini menjadi salah satu rumah sakit yang terletak tak jauh dari Istana Bogor. Bangunan Rumah sakit ini terletak di Jalan Jendral Sudirman No 8 Bogor.

4.    Hotel Salak

Tak jauh dari Rumah Sakit Salak, terdapat Hotel Salak. Hotel ini didirikan pada tahun 1856 dan diberi nama Dibbets untuk mengikuti nama pemiliknya J. Dibbets. Hotel ini dimaksudkan untuk menginap tamu-tamu yang berkunjung ke Paleis (Istana Gubernur Jenderal) dan kebun raya Bogor. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1948, nama bangunan ini menjadi Hotel Salak, karena mempunyai panorama dan pemandangan yang sangat indah ke arah Gunung Salak.

5.    Prasasti Batutulis

Prasasti ini dibangun pada tahun 1533 oleh Prabu Surawisesa sebagai peringatan terhadap ayahandanya Prabu Siliwangi. Prasasti Batutulis dan benda-benda lain peninggalan kerajaan Pajajaran yang terdapat dalam kompleks ini. Pada batu tersebut berukir kalimat-kalimat dengan hukum sunda kawi. Selain itu, di sebelah prasasti ini terdapat sebuah batu panjang dan bulat dan sama tingginya dengan batu prasasti. Prasasti ini merupakan bukti rasa hormat seorang anak terhadap ayahnya dan sebaiknya diteladani oleh generasi kini. (rab)