Belajar Calistung

Tak lama lagi, sudah memasuki masuk ujian baru. Bagi anak yang hendak masuk Sekolah Dasar (SD), beberapa sekolah mewajibkan anak untuk bisa Calistung (membaca, menulis dan berhitung). Alhasil, tak sedikit ibu yang kuatir anaknya tak bisa Calistung sehingga tak dapat diterima di sekolah idamannya. Ada yang menganggap bahwa masuk SD, anak sudah harus bisa Calistung. Namun banyak pula yang menganggap kemampuan Calistung sebaiknya dilakukan saat telah masuk SD. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak untuk Calistung.

Apakah mengajarkan anak Calistung sejak dini adalah pilihan tepat? Atau anak malah menjadi enggan membaca?

Direktur Pembinaan PAUD Kemendikbud, R. Ella Yulaelawati Ph.D, mengatakan Kementerian Pendidikan melarang anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Anak (TK) diajarkan Calistung. Jadi, kemampuan Calistung bukanlah suatu kecakapan yang harus diajarkan pada anak usia dini. “Justru pembelajaran Calistung dilakukan pada tingkat SD,” kata Ella.

Membaca merupakan proses yang terdiri dari dua bagian penting yakni decoding dan comprehension. Decoding atau penerjemahan penglihatan yang merupakan suatu kecakapan. Adapun comprehension atau pemahaman yang tergantung sepenuhnya pada kosakata dan pengetahuan yang dimiliki anak sebelumnya.

Kemampuan anak ada tahapannya. Dimulai dari kemampuan mendengar, kemampuan berbicara dan terakhir kemampuan menulis. Jadi, anak perlu dilatih kemampuan mendengarkan terlebih dahulu. Kemudian berbicara atas apa yang didengarkan. Nah, sejak dini anak hanya dipacu belajar membaca saja tanpa memiliki pemahaman, maka ia tidak akan bisa menulis dalam konteks yang lebih luas. Hal paling penting untuk diajarkan pada anak pra sekolah adalah mempersiapkan kemampuan skolastik, perkembangan sosial emosional, kognitif dan motorik. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan untuk mengembangkan seluruh potensial anak secara optimal. Caranya ya melalui bermain dalam suasana rumah. Setelah itu anak dididik dengan cara bermain secara berkelompok ataupun individu. Seluruh kegiatan yang dilakukan untuk merangsang seluruh potensial kecerdasan anak diharapkan dapat berkembang secara optimal.

Apabila telah melakukan hal ini, berbagai kegiatan yang dilakukan dapat merangsang seluruh potensi kecerdasan anak agar dapat berkembang dengan lebih optimal. Namun, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan terkait mengajarkan anak kemampuan huruf pada anak. Sebagai orangtua, yang pertama kali harus dipahami bahwa anak-anak berbeda dengan kita sehingga sebagai orangtua kita harus mengajarkan sesuai dengan kapasitas mereka. Jangan lupa untuk menggunakan teknik yang sesuai dengan keinginan anak. Berikan pula pujian untuk usahanya sehingga memberinya semangat dalam belajar. Gunakan pula cara belajar yang menyenangkan agar secara psikologis, anak menjadi semangat belajar. Bila tidak menyenangkan, dikuatirkan akan berdampak psikologis. (rab)