9 Hal Ini Ampuh Mencegah Demensia

Mencegah Demensia

Mencegah Demensia (pixabay.com)

Selama 7 tahun, Yaakov Stern, seorang neuropsikolog dari Universitas Columbia, melakukan riset tentang  Alzheimer, salah satu jenis demensia yang paling banyak terjadi. Setelah mempelajari 1800 orang dewasa yang menjadi subyek penelitiannya, Yaakov meyakini bahwa mencegah demensia bisa dimulai dari keluarga.

Dalam penelitiannya, Yaakov menemukan banyak penyandang demensia datang dari latar belakang keluarga yang sering melarang anggota keluarga, terutama anak-anaknya, berkegiatan. Situasi “penuh larangan” dalam keluarga menyebabkan anak lebih mudah stres. Yaakov menyimpulkan, anak yang mudah stres berisiko 3 kali lebih besar mengalami peningkatan gejala Alzheimer dibanding anak yang jarang stres.

Untuk mengurangi pemicu stres dan menekan risiko demensia, perilaku dan kegiatan berikut dapat Anda lakukan.

  1. Menjaga kesehatan jantung
  2. Aktifkan otak
  3. Konsumsi sayuran dan buah-buahan setiap harinya
  4. Olah raga. Setidaknya 30 menit dalam sehari secara konsisten
  5. Memeriksa tekanan darah dan kolesterol secara rutin
  6. Gaya hidup sehat, serta kombinasi kegiatan mental dan sosial
  7. Berusaha rileks dan berpikir positif
  8. Mendengarkan maupun bermain musik atau seni
  9. Meditasi atau Tai Chi

Selain hal-hal di atas, Yaakov menyarankan keluarga untuk lebih sering “meluangkan waktu” lewat kegiatan-kegiatan seperti mengunjungi teman-teman, bermain kartu, menonton film, teka-teki silang, catur, membaca, mendengarkan ceramah, menjadi sukarelawan, atau menggeluti bakat dan minat yang disukai.

Keluarga Bersama Demensia

Setiap keluarga perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang demensia. Bagi mereka yang memiliki anggota keluarga dengan demensia, penting untuk mengenali kebiasaan si pasien. Sebab, penyandang demensia dengan yang satu lainnya berbeda–tergantung dari riwayatnya–dan mereka tidak bisa mengendalikan perilakunya.

Memiliki keluarga dengan demensia adalah sebuah tantangan tersendiri, apalagi jika sebelumnya keluarga tidak cukup dekat dengan si pasien. Caregivers–istilah bagi keluarga dan pendamping pasien demensia–perlu memiliki persiapan mental yang memadai.

Dr. Ria Maria Sp.KJ seringkali menemukan kejadian di mana caregivers menjadi stres saat mendampingi penyandang demensia. Salah satu pemicunya adalah karena beberapa dari mereka bahkan harus meninggalkan pekerjaan demi menjaga penyandang demensia. Stres membuat para caregivers menjadi emosional, kesepian, dan menjadi cemas berlebihan.

Ria menyarankan para caregivers untuk bekerja sama dan berbagi tugas saat mendampingi penyandang demensia. Selain meringankan pekerjaan, hal ini juga berguna untuk menjaga kestabilan emosi para caregivers. Ria juga menganjurkan mereka untuk secara rutin  memeriksakan tingkat stres.

Tugas utama para caregivers dan keluarga adalah memberikan kualitas kasih sayang dan perhatian dengan cara apapun kepada penyandang demensia. Jangan dulu melibatkan penyandang demensia pada permasalahan-permasalahan keluarga. Berikan senyuman, gunakan intuisi, gunakan alasan logika dalam menjelaskan maupun menjawab pertanyaan yang diajukan si pasien. Berikan pertanyaan opsional, dukung kegiatan sosialnya, dan biarkan ia mengingat masa lalunya. Meluangkan waktu untuk mengikuti sharing session sesama caregivers juga bisa bermanfaat untuk menguatkan dan menambah pengetahuan Anda.

Sumber artikel:

  • http://www.alz.org/ – What is Dementia
  • http://www.alzi.or.id/ & sharing session caregivers 3 Desember 2016, Apartemen Golf Bukit Indah, Pondok Indah
  • http://documents.tips/documents/alzheimer-55a234e8f070a.html
  • https://www.youtube.com/watch?v=RHPDnM2TSrY – Gejala Demensia
  • https://www.youtube.com/watch?v=HsALxgGzcL0 – Tahap dan strategi yang harus diketahui Caregivers.(sn)